Merasakan Sengatan “Slumdog Millionaire”

Posted March 23, 2009 by zaki habibi
Categories: Sinema

Tags: , ,

Film yang menggetarkan!

slumdog_millionaire_poster-1Itu komentar ringkas, tapi sekaligus menggambarkan keseluruhan kesan saya atas film Slumdog Millionaire besutan sutradara Inggris, Danny Boyle. Di sini saya tidak akan mengupas seluk beluk film peraih 8 Oscar dan sejumlah penghargaan bergengsi lainnya itu. Untuk film yg sudah “menggetarkan” dunia sejak penghujung akhir 2008 hingga kini tsb ulasannya sudah begitu banyak, silakan saja langsung cek ke link berikut, atau masuk saja ke official websitenya di sini dan di sini juga.

Kali ini saya ingin lebih mengutarakan perasaan saya sebagai penonton film tsb. Saya sengaja menonton filmnya langsung tanpa sebelumnya membaca berbagai ulasan, kritik, dan komentar ttg film ini. Saya sedang mencoba menjadi penonton bebas, yang bebas merasakan apa yang disajikan dalam sebuah tontonan bertajuk Slumdog Millionaire (selanjutnya saya sebut SL). Apa yang terjadi? Saya berhasil mendapatkan kesan yang mendalam atas SL. Salah satu penyebabnya tentu saja karena film ini sendiri sudah kuat sejak dari konsep dasarnya, lalu ceritanya, sinematografinya, dan yang terutama: nilai-nilai yang muncul di dalamnya.

Read the rest of this post »

“Para Pencari Tuhan”, Adakah DVD-nya?

Posted October 14, 2008 by zaki habibi
Categories: Kotak Ajaib

Tags: , ,

Selama Ramadhan lalu, saya sedikit punya harapan lagi kepada tontonan televisi. Sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) kembali tayang lewat sekuel keduanya, Para Pencari Tuhan Jilid 2. Sudah begitu banyak ulasan di berbagai media massa tentang sinetron garapan aktor-sutradara-produser Deddy Mizwar ini. Begitu juga posting di blog-blog yang memberi salut pada sinetron produksi PT Demi Gisela Citra Sinema ini yang tak lain adalah rumah produksi milik Deddy Mizwar (ia mendedikasikan nama istrinya, Gisela, untuk menamai perusahaan tsb).

Tak perlu banyak ulasan lagi, karena satu bukti kuat akan kualitas dan dampaknya sudah ditunjukkan PPT lewat kotak ajaib di stasiun SCTV saban dinihari selama bulan puasa lalu, pukul 03.00-04.30 (terkadang hingga pukul 05.00 karena saking banyaknya iklan dan kuis sisipannya). Cukup dengan menyaksikannya, semua penonton dapat merasakan seberapa dalam kualitas tontonan tsb. Kita dapat hanyut dalam ceritanya, tokoh-tokohnya, berikut karakter-karakternya, tanpa harus menanggalkan akal sehat dan rasa manusiawi kita.

Read the rest of this post »

“Gapura Mataram” Menyapa Pembaca

Posted August 1, 2008 by zaki habibi
Categories: Media Komunitas

Tags: ,

 

Pelatihan media komunitas di Sayangan, bertemu setiap Selasa malam di pendopo

Pelatihan media komunitas di Sayangan, bertemu setiap Selasa malam di pendopo

Medio April lalu, tepatnya sejak 15 April hingga 6 Mei 2008, saya jadi sering bolak-balik ke perkampungan di daerah Kotagede, Jogja. Persisnya di Dusun Sayangan, Jagalan. Kampung ini sudah masuk wilayah Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Wilayahnya mudah dikenali dan dijangkau karena persis di sekitaran Masjid Kotagede, salah satu situs bersejarah peninggalan Kerajaan Mataram Islam. 

 

Tapi, keperluan saya keluar masuk di sana tak ada sangkut pautnya dengan urusan sejarah atau Kerajaan Mataram. Saya diundang menjadi fasilitator merangkap trainer untuk membantu menghidupkan keberadaan media komunitas yang dikerjakan pemuda-pemudi di wilayah tersebut. Awalnya, ini hanyalah salah satu kegiatan mahasiswa yang tengah KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari Universitas Islam Indonesia (UII). Undangan kepada saya pun datang dari mereka. Namun, setelah saya berbincang-bincang di awal, ternyata mereka belum siap dengan desain programnya. Alhasil, saya usulkan beberapa hal agar kegiatan itu tidak sekadar ada dan lalu jadi sia-sia.

Read the rest of this post »

Wartawan Tanpa (Terikat) Media

Posted March 14, 2008 by zaki habibi
Categories: Pers

Tags: ,

 

Beberapa minggu belakangan ini aku mengusik diri dengan sebuah pertanyaan, “Mungkinkah seorang wartawan atau jurnalis tetap menjalankan kerja-kerja jurnalistiknya tanpa terikat pada media tertentu?”

Atau, dengan kata lain, mungkinkah seorang wartawan tetap jadi wartawan tanpa harus bekerja di media tertentu. Bukan sekadar jadi jurnalis lepas atau freelance journalist. Tapi, aku mendamba sebuah tatanan yang mengakui eksistensi wartawan tanpa ia harus terikat secara administratif dengan satu media tertentu. Dia bebas melaporkan atau mereportase apapun, dari sudut pandang manapun, bebas pula menuliskannya di medium apapun dengan cara bagaimanapun. Adakah?

Siaran Radio: “Public Service with Personal Approach”

Posted January 4, 2008 by zaki habibi
Categories: Ruang Dengar

Tags: , ,

Sudah lama aku tidak benar-benar mendengarkan radio. Sudah lama juga tidak bersinggungan di dunia siaran lagi sejak mengenalnya pertama kali di pertengahan 2001 dan kutinggalkan betul-betul di akhir Maret 2004. Tapi, semalam—lebih tepatnya dini hari tadi—aku tiba-tiba kembali jadi pendengar radio. Bukan cuma menyalakannya untuk mengisi kesenyapan malam, tapi benar-benar mendengarkan.

 

Gara-gara espresso di vanilla latte yang kuminum sebelumnya, jadilah mata ini tidak mau diajak kompromi untuk tidur. Sambil menghabiskan novel yang sedang kubaca, kupasang earphone dari MP3 recorder, kuputar menu FM radionya dan secara kebetulan tertambatlah aku di sebuah program bertajuk Insomnia. Kebetulan berikutnya, program itu diputar di stasiun radio tempat pertamaku siaran dulu!

Read the rest of this post »

Massa Beringas, Pers yang Tertindas

Posted November 27, 2007 by zaki habibi
Categories: Pers

Tags: , ,

Dunia pers nasional kembali tercoreng. Kali ini justru oleh ulah sekelompok mahasiswa di Jakarta yang main gebuk di dalam kampus terhadap seorang jurnalis media online detik.com, Andi Saputra. Kisah lengkap berikut foto-fotonya bisa dibaca nanti di bawah. Saya sertakan juga beberapa link berita yang terkait peristiwa tersebut.

Satu hal yang ingin saya tekankan dari peristiwa itu adalah bahwa sekarang kita tidak bisa lagi menyikapi kejadian semacam ini sebatas dalam konteks pelanggaran kebebasan pers. Jadi, jangan sampai peristiwa semacam ini cuma terfokus pada konfrontasi antara insan pers versus massa yang menghalangi kerja jurnalistik di lapangan.

Read the rest of this post »

Tantangan Baru Bertajuk: “Citizen Journalism”

Posted November 18, 2007 by zaki habibi
Categories: Pers

Tags: , ,

Banjir informasi di era Internet membawa banyak perubahan. Salah satunya adalah dalam praktik jurnalistik. Bagaimana berita menemukan bentuk dan makna barunya di era seperti ini? Silakan temukan jawabnya lewat telaah atas konsep baru bertajuk citizen journalism dalam artikel berikut:

Citizen Journalism dan Makna Berita di Era Informasi – by zaki habibi

Mengecam Sinetron (Lagi)

Posted November 5, 2007 by zaki habibi
Categories: Kotak Ajaib

Tags: ,

Setelah Timun geram dengan ulah sinetron di televisi, kini giliran Sukribo yang mengecamnya di Kompas, Minggu 4 November 2007. Tentu saja dengan gayanya yang khas: nyindir agak nylekit. Moga-moga saja yang disindir merasakan clekitan Sukribo ini, bukannya malah makin pongah dengan berbagai polah dan ulah.

Sukribo kritik sinetron - Kompas 4 November 2007

Sinetron Bikin Geram

Posted November 1, 2007 by zaki habibi
Categories: Kotak Ajaib

Tags: ,

Bahkan, TIMUN pun dibuat geram dengan ulah sinetron-sinetron yang makin ‘ajaib’.

Komikstrip Timun - Sinetron

Pindahan Rumah

Posted October 30, 2007 by zaki habibi
Categories: - semuamua -

Tags:

Weblog melek media ini adalah pindahan dari blog dengan nama yg sama di blogspot (melekmedia.blogspot.com). Sengaja memang saya pindahkan karena alasan teknis, dan juga demi kebutuhan fitur-fitur tambahan yg lebih tersedia di wordpress.

Empat posting sebelum ini merupakan pindahan dari blog terdahulu. Sedangkan, mulai posting ini (30 Oktober 2007) adalah posting-posting baru yang memang belum ada di blogspot. Intinya, “melek media” sekarang punya rumah baru di wordpress dan akan bisa lebih sering ditemui di sini. Namun, penghuni rumahnya, semangat, serta visi blog ini tetap sama. Yaitu, merangsang terbentuknya masyarakat yang lebih melek media.