Ritus Menonton Tayangan Olimpiade (bagian ke-2)

…Sejak 28 Tahun Silam

IMG_7823

Saya akan mundur jauh ke ingatan 28 tahun ke belakang: Seoul 1988. Inilah kali pertama saya punya memori sebagai penonton olimpiade. Waktu itu saya masih duduk di sekolah dasar. Olimpiade yang menempatkan kota kedua di Asia sebagai tuan rumah ini menjadi penanda awal “hubungan akrab” saya dengan tayangan olimpiade. Waktu itu guru olahraga di sekolah menyebutkan bahwa akan ada acara olahraga akbar sedunia. Ia menyarankan murid-muridnya, termasuk saya, untuk melihat tayangannya di televisi. Kata “olimpiade” terdengar asing di telinga saya saat itu, tetapi sekaligus terdengar amat eksotik. Bayangan saya ketika itu, di dalam olimpiade akan ada pertempuran macam di cerita silat. Saya pun tertarik menuruti anjuran guru. Apesnya, saat itu keluarga saya tidak punya pesawat televisi!

 

Tahun itu kami sekeluarga belum lama pindah dari kota kecamatan di wilayah pertanian di selatan Jawa Tengah ke kota besar di pesisir utara provinsi yang sama. Di kota pesisir ini kami berpindah-pindah tempat tinggal, dan saat Olimpiade Seoul 1988 berlangsung kami belum genap setahun menempati kontrakan di sebuah paviliun yang menempel di rumah induk milik keluarga lain di perkampungan bergaya gang-gang (lorong). Mudahnya, bayangkan saja ini semacam rumah petak di kota-kota besar sekarang. Tidak semua keluarga memiliki pesawat televisi saat itu, dan pesawat televisi berwarna masih menjadi penanda kemewahan luar biasa.

 

Siaran radio menjadi cara mengakses kabar dan hiburan yang lebih lazim ketimbang pesawat televisi. Namun, lagi-lagi, keluarga kami juga tidak memiliki pesawat radio kala itu. Kerap saya mendengarkan siaran radio milik keluarga rumah induk di sisi kanan paviliun tempat kami mengontrak. Terkadang saya mendengarkan di dalam rumah mereka kalau kebetulan sedang main ke sana.

 

Namun, hal itu jarang sekali terjadi karena tidak cukup alasan saya sering-sering main ke sana. Keluarga tersebut sudah tidak memiliki anak kecil, jadi saya tidak punya teman main sebaya. Hanya ada seorang kakek yang sudah sangat uzur – sangat baik dan pemurah orangnya, tapi tentu ia bukan teman main anak kecil usia SD – dan anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa awal. Oleh karenanya, saya lebih sering mendengarkan siaran radio mereka dari dalam paviliun kontrakan kami. Berterimakasih lah pada dinding pemisah antar-rumah yang hanya berupa papan triplek tipis. Jadilah siaran radio mereka turut tembus bisa ikut saya dengarkan.

 

Tatkala olimpiade Seoul 1988 berlangsung, saya merasa tidak puas dengan siaran radio. Bukan karena cara mendengarkannya lewat dinding triplek, atau kualitas siaran radionya. Justru saya sangat antusias dengan cara begitu, juga dengan penyiar RRI (Radio Republik Indonesia) terutama laporan berita olahraga pukul 11 pagi. (Salut untuk RRI, program siaran berita olahraga ini masih ada hingga sekarang, dan tetap di jam siar yang sama).

 

Ketidakpuasan saya terletak pada dua hal: bentuk medium dan jenis siarannya. Saya tidak puas dengan siaran radio karena imajinasi saya tatkala mendengarkan medium auditif ini mengenai olimpiade malah jadi terbatas. Harap dicatat, saat itu saya juga penggemar berat sandiwara radio seperti Misteri Gunung Marapi, Saur Sepuh, dan Tutur Tinular. Imajinasi saya saat mendengarkan adegan-adegan kisah silat dan drama kolosal ini mengembara luar biasa dan terus berkembang dari episode ke episode. Tentu saja, bacaan novel silat dan kisah bersambung dengan genre yang sama di koran harian yang sudah saya lahap sebelumnya memberi stimulus untuk pengelanaan lebih memukau dalam membentuk imaji-imaji visual saat mendengarkan sandiwara radio tersebut.

 

Akan halnya dengan olimpiade, saya tidak punya rujukan pengetahuan dan pengalaman yang memadai sebelumnya. Sehingga, saya menjadi sulit membayangkan tatkala penyiar RRI melaporkan perolehan medali dari cabang lempar lembing, misalnya. Atau, tatkala dengan sangat detail dan dengan nada bangga sang penyiar mengabarkan babak-babak dramatis tim panahan beregu putri Indonesia yang berhasil meraih medali pertama sepanjang sejarah keterlibatan kontingen negeri ini di olimpiade. Saya sama sekali sulit membayangkan apa yang terjadi di lapangan panahan Seoul saat itu. Karena, imaji-imaji Mantili dan Lasmini – dua tokoh perempuan petarung di sandiwara radio Saur Sepuh – berkelebat menunggang kuda sembari membawa panah beracun yang justru terbayang di kepala saya saat itu. Sudah barang tentu, bahkan waktu itu pun saya yakin, bayangan saya ini agaknya keliru besar.

 

Ketidakpuasan kedua karena siaran RRI mengenai olimpiade ini sebatas laporan berita. Sementara, saya ingin merasakan peristiwanya secara langsung dan mengikuti sensasi ketegangan dalam waktu yang sama. Bahasa kerennya sekarang: siaran live. Saya merasa belum berhasil mewujudkan saran guru di sekolah untuk menyaksikan tayangan olimpiade di televisi.

 

…(berlanjut di bagian ke-3)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s