IMG_7812

Demam olimpiade, demam Rio 2016. Tidak ada salahnya turut menuliskan catatan oto-etnografi saya sebagai penonton ajang kompetisi olahraga sejagad ini. Tentu saja bukan menyaksikan langsung di kota tempat perhelatannya, tetapi menonton lewat layar kaca.

 

Terdengar agak kemlinthi juga sebenarnya ketika saya secara manasuka menggunakan istilah “oto-etnografi” untuk mengawali tulisan ini. Maafkan (meski memang saya sengaja). Niat saya hanya untuk mempermudah maksud orientasi tulisan ini yang hendak mengurai pengalaman menonton tayangan olimpiade melalui media. Kebetulan penonton yang menjadi subjek ulasan adalah saya sendiri. Jadi, ya…bolehlah ini dianggap semacam refleksi usil seorang audiens yang ndilalah pas selo. (Debat tentang istilahnya, sesuai atau enggak secara epistemologis dan teoretis, besok-besok saja ya saya ladeni kalau sedang tidak terlalu selo).

 

Sudah hampir dua pekan olimpiade musim panas di Rio de Janiero, Brazil, 2016 ini berlangsung sejak dibuka pada 5 Agustus lalu. Ajang kompetisi olahraga multicabang setiap empat-tahunan ini telah memasuki perhelatannya yang ke-31 sepanjang sejarah olimpiade modern sejak 1896.

 

Kalau ingin tahu lebih detail seputar data dan fakta penyelenggaraan “Rio 2016”, begitu nama populer ajang tahun ini dikenal, mampir saja ke sejumlah laman daring. Wikipedia pun sudah menyediakan lema khusus bertajuk “2016 Summer Olympics”. Bahkan, Google juga tidak tanggung-tanggung makin memudahkan pengguna dengan menyediakan moda pencarian spesifik tentang perkembangan Rio 2016 setiap saat. Informasi hasil pencarian juga telah dikelompokkan sesuai kemungkinan beragam kebutuhan spesifik pengguna (users).

 

Termasuk, data perkembangan setiap cabang olahraga dan raihan setiap negara peserta. Coba saja iseng ketikkan “Rio Olympics Indonesia”, maka hasil pencarian teratas akan menunjukkan data spesifik kontingen Indonesia. Lengkap dengan tampilan grafis yang amat memudahkan pengguna. Tentu, ini bukan hal spesial buat mesin pencari sekelas Google. Akan tetapi, menurut saya – yang amat awam dalam hal bahasa pemrograman komputer, algoritma bilangan biner, digital coding, dan semacamnya – apa yang disajikan mesin pencari ini semacam “sihir baru” bagi peradaban yang hidup secara kian termediasi gejala digital seperti sekarang.

 

Bagi saya yang selalu rutin menyempatkan diri menonton tayangan dan mengikuti kabar olimpiade setiap empat tahun sekali, fenonema belakangan di media digital tersebut adalah pengalaman baru. Di ajang-ajang sebelumnya, tatkala saya juga menjadi salah satu penontonnya, perilaku pencarian informasi saya belum seperti sekarang. Dan, saya yakin, ini bukan melulu soal teknologinya yang telah hadir dan memungkinkan. Melainkan, juga karena ada ada hal-hal lain yang tak kalah menarik ditengok.

 

…(berlanjut di bagian ke-2)


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s