…Dari Ingatan Personal ke Kesadaran Kolektif

IMG_7856

 

Setelah Seoul 1988, saya memiliki semacam ritual empat tahunan. Terlepas bahwa karena sejak kecil menyukai dan dekat dengan olahraga, pengalaman menontonnya melalui media massa sudah menjadi penanda tersendiri bagi saya.

 

Ada banyak hal monumental dari setiap ajang olimpiade, baik karena memang peristiwanya menjadi berita dunia atau sebatas persepsi saya pribadi yang menginterpretasinya demikian, yang terekam kuat sebagai ingatan personal saya. Misal, bagaimana penyalaan obor olimpiade di Barcelona 1992 dengan menggunakan busur dan anak panah berapi oleh seorang atlet paralympic kala itu adalah sebuah momen ingatan yang sulit terhapus. Hingga penyelenggaraan kali ini di Rio dengan upacara pembukaan yang mutakhir menggabungkan koreografi kolosal manusia dan teknologi digital terutama video mapping, penyalaan obor di Barcelona tetap menjadi salah satu cara yang aduhai luar biasa dan tak terkalahkan di benak saya. Atau, bagaimana pula rekaman haru dan adegan monumental Susi Susanti dan Alan Budikusuma tatkala masing-masing meraih medali emas pertama untuk kontingen Indonesia dari cabang badminton di Barcelona 1992.

 

Jika diingat lebih dalam, ternyata saya sudah menonton delapan kali perhelatan olimpiade sejak di Seoul 1988 hingga Rio 2016. Semuanya konsisten menonton melalui media, bukan menonton langsung di lokasi. Di sinilah pengalaman termediasi saya terkait ritus menonton olimpiade ini, menurut saya, menjadi kian menarik untuk memahami berbagai perjalanan hidup saya pribadi hingga memahami konteks yang lebih luas.

 

Meski belum pernah secara khusus menyengaja untuk menonton langsung di venue, saya rupanya memiliki pengalaman menonton melalui media dari beda kota tempat tinggal. Kebetulan dalam 28 tahun terakhir sejak saya pertama kali mengikuti siaran Seoul 1988, ternyata saya telah menonton setidaknya di empat kota di Indonesia, satu kota di Australia dan satu kota di Swedia. Ini semuanya karena kebetulan dalam kurun waktu tersebut saya berpindah-pindah tempat tinggal. Namun, hal yang relavan yang hendak saya sebut di sini adalah bahwa ingatan personal saya atas setiap momen “ritus” empat tahunan ini rupanya terhubung juga dengan tahapan-tahapan hidup saya di berbagai kota tempat saya tinggal tersebut.

 

Sekadar ilustrasi, saya menonton keberhasilan Susi dan Alan saat saya tinggal di Kudus, salah satu kota penting dalam peta badminton Indonesia karena memiliki klub badminton yang stabil dan punya sejarah panjang melahirkan pemain-pemain kelas dunia. Sorak-sorai penonton yang saya ingat dalam setiap pertandingan tim badminton Indonesia kala itu juga sering saya tonton melalui siaran televisi di sebuah toko alat olahraga di kota ini. Meski waktu itu keluarga saya sudah punya pesawat televisi, tapi terkadang saya sengaja numpang menonton di toko ini karena mereka memiliki pesawat televisi berwarna, dan itu menjadi pengalaman keterpuasan tahap selanjutnya bagi saya.

 

Terkadang, konteks ingatan personal ini juga tidak terkait sama sekali dengan peristiwa olahraga dari tontonan yang saya lihat. Misal, tatkala perhelatan London 2012. Kala itu saya sudah berkeluarga dan tinggal di ujung barat daya Australia. Semangat para olimpian saat itu turut memotivasi saya – secara tidak langsung – yang kala itu sedang berusaha menyelesaikan naskah tesis studi master saya di sana. Lagi-lagi, saya sendiri yang menghubung-hubungkan antara dua peristiwa yang tidak saling terkait tersebut. Begitulah cara saya kini mengingat setiap momen ritus menonton olimpiade ini dalam gambaran pemaknaan yang lebih dalam.

 

Tentu saja catatan oto-etnografi ini benar-benar bukan dalam rangka menarik perilaku dan gejala umum penonton secara menyeluruh dari sebatas pengalaman saya seorang. Saya justru percaya, pengalaman setiap orang adalah otentik. Setiap orang pun memiliki detail ingatan personalnya masing-masing. Namun, seperti sudah sering tersaji dalam berbagai kajian mendalam dari berbagai lintas disiplin yang mengulik kaitan antara ingatan (memori) dan pengalaman, sebenarnya ingatan personal tidak bisa diabaikan begitu saja. Setiap memori personal pada dasarnya tidak terlepas dari ingatan kolektif pula. Begitu pula sebaliknya, setiap memori kolektif juga turut membentuk ingatan personal setiap individu yang terlibat di dalamnya baik secara langsung maupun termediasi.

 

Bila ingatan personal ini digali lebih banyak, baik dari satu orang yang sama maupun ditambahkan dari ingatan personal orang-orang lainnya, bukan tidak mungkin nantinya dapat ditarik pemaknaan yang lebih komprehensif. Dalam hal ini, yaitu terkait peristiwa menonton tayangan olimpiade melalui media. Adakah pemaknaan ini juga akan menunjukkan gejala ritus kolektif? Bila ini menjadi ritus kolektif, bagaimana pula andil kumpulan ingatan personal dalam menjadikan memori kolektif suatu masyarakat pada konteks tertentu? Adakah dari sini juga akan tergambarkan kesadaran kolektif masyarakatnya secara sosial maupun kultural, yang kemudian turut membentuk sesuatu yang paling kompleks dipahami, yakni identitas?

 

Rentetan pertanyaan tersebut justru saya jadikan penutup dari rangkaian seri tulisan reflektif ini – yang semoga juga tetap kritis. Saya melontarkannya untuk menjadi bahan pemikiran dan kajian lanjutan kita bersama sesuai kapasitas kita masing-masing. Silakan bila pertanyaan-pertanyaan ini dijadikan titik bermula untuk menyusun tulisan dan karya-karya lainnya. Satu hal yang pasti bagi saya, dalam konteks pengalaman menonton olimpiade dan berbagai konteks luas yang dapat dikajinya, di sinilah letak arti penting relasi manusia dan media yang harus terus digali. Karena, selain bentuk dan isi media yang makin hari terus bertransformasi, pengalaman manusia dalam relasi termediasi dalam hidup kesehariannya juga sebenarnya amat beragam. Memahami keberagaman pengalaman ini akan turut menajamkan pemahaman kita pula agar tidak buru-buru membuat kesan, melontarkan komentar, dan mengambil kesimpulan secara sempit.

 

Terakhir, saya mengajak kembali ke masa sekarang. Rio 2016 saya adalah pengalaman termediasi lewat layar kaca di Lund, kota kecil di ujung selatan Swedia, melalui kombinasi siaran stasiun televisi dua negara sekaligus (Swedia dan Denmark) dan layar monitor komputer yang menayangkan siaran bermoda streaming dari berbagai laman. Pengalaman yang masih saya raba-raba maknanya, baik bagi saya pribadi maupun dalam memahami gejala hidup digital (digital living) secara umum. Tatkala saya hendak membubuhkan titik terakhir dalam tulisan ini persis ketika tayangan di televisi menunjukkan dalam posisi match point, smash menukik Tontowi Ahmad yang berpasangan dengan Liliyana Natsir dalam final ganda campuran badminton Rio 2016 tidak bisa dikembalikan dengan sempurna oleh Goh Liu Ying, pemain Malaysia yang berduet dengan Chan Pheng Soon. Game’s over! Tontowi dan Natsir pun juara, medali emas pertama untuk Indonesia mendarat di kontingen ini. Patut saya takzim sedalam-dalamnya dan mengucapkan selamat. Salut.

 

Sekaligus, bertambah lagi rekaman memori baru dalam ritus empat tahunan saya. Momen ini tampaknya akan menjadi ingatan kolektif pula untuk banyak orang Indonesia, dunia badminton, dan siapapun yang terhubung dengan peristiwa ini – secara langsung maupun termediasi.

Advertisements

One thought on “Ritus Menonton Tayangan Olimpiade (bagian ke-4, penutup)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s