Narasi Televisi: Siaran Australian Open 2012 yang Dramatik dan Filmis

Image

The Australian Open 2012, Men’s Single Final Presentation

photo © 2012 by Hayu

 

Tatkala saya menyaksikan siaran langsung ajang grand slam tenis dunia, the Australian Open 2012, di stasiun televisi 7 (Seven) di Australia Januari lalu ternyata saya tidak hanya tersedot ke dalam emosi pertandingan yang disajikan para pemain tenis tangguh. Tapi, saya juga hanyut dalam drama yang “dimainkan” aktor-aktor berkaliber dunia bernama Roger Federer, Rafael Nadal, Andy Murray, Novak Djokovic, dan juga aktris-aktris secantik Maria Sharapova, Victoria Azarenka, atau berkarakter kuat seperti Kim Clijsters. Belakangan saya sadar, pemain utamanya ternyata bukan mereka, tapi: televisi!

Selama dua pekan penuh, stasiun televisi 7 bersama jaringannya seperti 7two yang memegang hak siar ajang grand slam di Melbourne itu memang benar-benar menayangkan “mini seri” prime time yang luar biasa. Yang saya maksud luar biasa di sini bukan karena eventnya, melainkan bagaimana 7 dengan kemutakhiran teknologi penyiaran dan digitalisasi berikut pemahaman kuat atas konsep visual dari sebuah tayangan televisi telah mengemas ajang olahraga ini hingga memiliki efek dramatik, bahkan filmis. Siaran langsung dan juga tayangan ulang berikut berbagai tayangan ulasan pertandingan yang mengikutinya telah dibuat sedemikian rupa lewat kode-kode bahasa visual –  bahkan kode motion pictures – melalui shot, pergerakan kamera, pemilihan angle dan pilihan gambar, penekanan efek suara, warna, tulisan pelengkap baik infografik maupun data pelengkap lainnya yang punya ungkapan dramatik dan filmis. Tidak heran jika kemudian saya berani menyebut 7 telah menyajikan format narasi sebuah film drama, bahkan mungkin epik dan kolosal, dari sebuah ajang olahraga “biasa” yang narasinya sendiri sudah pakem: ada peserta, ada pecundang, ada juara.

Saya tertarik untuk melihat aspek dramatik dan filmis dari sebuah tayangan olahraga ini lebih jauh. Semoga saya bisa menghadirkan ulasan lebih dalam di tulisan-tulisan berikutnya. Karena, bagi penonton, siaran Australian Open 2012 lalu jauh lebih heboh dari segala reality show televisi, dan jauh lebih “nyata” dibanding kenyataan yang terjadi di tennis court Rod Laver Arena tempat ajang ini berlangsung. Hmm, what a show!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s