Media, Seragam Tim Sepakbola, dan Indonesia Kini

Setelah agak lama tidak mengikuti perkembangan olahraga lewat media, hari ini saya kepincut beli tabloid BOLA lagi. Penyebab awalnya sebenarnya karena kepagian sampai di daerah Kuningan Jkt, padahal kelas saya baru akan dimulai Jumat (3/9) siang. Meskipun bacaan berlimpah di Resource Center di tempat saya beraktivitas di Kuningan, tp bosan juga baca yg itu-itu melulu sebulan terakhir ini. Alhasil, tertambatlah saya pada lapak koran di bawah jembatan penyeberangan di depan gedung Sentra Mulia.

Bukan isi berita BOLA edisi ini yg membuat saya tergugah menulis post ini, melainkan poster di halaman belakangnya. Kali ini BOLA menampilkan foto timnas sepakbola Jerman. Kalau melihat komposisi pemainnya, sepertinya ini adalah tim yg berlaga di pentas Piala Dunia 2010 Juni lalu di Afrika Selatan.

Poster tim di halaman belakang bukan barang baru buat tabloid ini. Tapi yg bikin saya sampai merinding adalah ketika membaca satu persatu nama pemain sembari menatap mereka yg tengah dalam posisi siap tempur. Mereka muda usia, bahkan disebut-sebut sebagai tim dengan rata-rata usia termuda di ajang Piala Dunia lalu. Hanya segelintir pemain yg sudah menembus kepala tiga, mayoritas masih berusi 20-an awal, sebuah rentang usia emas untuk seorang  atlet.

Tapi, lagi-lagi, bukan soal itu pula yg bikin saya terhenyak dan sampai merinding. Dari segi selera, saya termasuk satu dari sekian banyak orang yg  tidak mendukung timnas Jerman, tapi pagi ini saya tersihir oleh poster pejuang muda ini karena s-e-r-a-g-a-m-n-y-a!

Mereka tampak gagah, sedikit arogan, punya rasa takut tapi bisa mereka tepis jauh-jauh dengan rasa bangga luar biasa dan optimisme akan kemampuan yg mereka miliki. Hal inilah yg terpancar dari sebuah poster berisikan 11 pejuang berbalut “baju perang abad 21”, dari kiper Manuel Neuer, penyerang gesit Lukas Podolski, dan gelandang cerdas Bastian Schwensteiger.

Saya masih termenung dan terheran-heran bagaimana sebuah seragam yg semula sekadar pembalut tubuh untuk membedakan dengan tim lawan bisa bermakna lebih dari sekadar itu. Seragam yg didesain dengan sungguh-sungguh ini telah menyerobot masuk ke benak siapa saja yg melihat bahwa “yg sedang kau lihat ini bukan hanya sebuah tim tendang-tendang bola, tapi potret bangsa yg gagah, siap menghadapi apapun  dan tak takut rintangan macam apapun karena memang bekal dan amunisi sudah mereka bangun dengan sungguh-sungguh”. Inilah potret yg membangun rasa bangga pada lebih dari 81 juta penduduknya, bahkan jutaan penggemar yg bukan berkebangsaan Jerman di seantero dunia.

Kalau hari ini saya merinding karena melihat potret yg membanggakan akan sebuah bangsa lewat selembar poster yg dimuat di media massa, di saat bersamaan saya juga terenyuh oleh isi media yg sama. Di segmen Olenas (Ole Nasional) yg berisi berita seputar sepakbola Indonesia, mayoritas isinya justru berbagai masalah. Bukan masalah yg menggiring pada progresivitas prestasi olahraga ini, melainkan beragam masalah yg memalukan.  Terutama sejumlah masalah yg domainnya bukan di olahraga. Sungguh miris.

Kemirisan yg sama juga saya rasakan pada beberapa hari terakhir ketika mayoritas media massa mengangkat persoalan jatidiri negeri ini yg lemah di mata negeri-negeri lain, termasuk di hadapan negeri tetangga sendiri. Ironisnya, bukan rakyat negeri ini yg menjadikan lemahnya jatidiri tsb, melainkan segelintir (tp dalam jumlah banyak) para pemimpinnya.

Sedih saya ketika beberapa hari lalu melihat iring-iringan yg membawa orang puncak negeri ini sibuk menyingkirkan lautan kemacetan rakyat di jalan raya ibukota saban pagi dan sore hari demi mencari kenyamanan sendiri dengan dalih protokoler keamanan. Seolah ia ingin selamat dan nyaman sendiri ketika gagal membuat rasa aman, nyaman, sekaligus bangga untuk bangsanya.

Ketika saya turut terharu melihat bagaimana seragam tim sepakbola Jerman membuat seluruh bangsa itu bangga akan negerinya dan kemudian sama-sama berbuat sesuatu demi bangsanya, saya justru berada di belahan dunia yg masih penuh dengan keplintat-plintutan, kebimbangan, ketidakpercayaan pada diri sendiri, dan ketidaktegasan sebuah negeri yg justru direpresentasikan oleh pemimpinnya.

Dan, semua itu terekam terus oleh banyak media. Terus…terus…dan terus. #

NB: saya tidak berhasil mendapatkan versi digital dari poster yg dimuat BOLA edisi tsb, jd tidak bisa saya sertakan di sini.. tp bagi yg ingin mendapatkan gambaran lebih jelas seperti apa tampang “para prajurit panser” tsb silakan klik di sini:
http://www.dfb.de/index.php?id=509967

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s