Euforia Bola, Media Kita, dan Memori Sosial Bangsa

Gempita perhelatan Piala Dunia 2010 telah mencapai puncaknya Minggu (11/7) malam atau Senin (12/7) dini hari waktu Indonesia. Yakni, saat kesebelasan Spanyol berhasil mengungguli 31 kontestan lainnya. Ingar bingar ajang sejagat itu pun telah usai kala tim berjuluk La Furia Roja itu berhasil lebih dulu menorehkan sejarah ketimbang pesaingnya, tim Oranye Belanda, sebagai tim Eropa pertama yang meraih trofi paling bergengsi itu di luar benua biru.

Gema pesta memang belum sepenuhnya usai. Begitu juga gaung kesedihan dan ratapan yang masih terngiang bagi mereka yang kecewa karena harus angkat kaki lebih dulu dari Afrika Selatan. Kita masih ingat betul bagaimana sebulan penuh topik utama sedunia berpusat dari ajang di Afrika Selatan itu. Tidak ada seharipun yang luput dari kehadiran informasi seputar Piala Dunia 2010. Baik tentang aksi di lapangan hijau, kisruh di kamar ganti pemain, gempita para penggemar, hingga Paul si gurita dari Jerman yang mengalahkan pamor mbah dukun karena “kesaktiannya” menebak delapan hasil pertandingan dengan tepat.

Setiap warga dunia yang tersedot dengan “sihir bola” ini larut dalam euforia atau kegembiraan membuncah atas segala hal yang berhubungan dengan ajang tersebut. Dari hal-hal yang memang terkait langsung dengan pertandingan, sampai setiap hal yang sebenarnya secara konstruktif dikait-kaitkan demi momentum piala dunia yang tengah menjadi sorotan utama. Di samping turut berandil besar dalam menyukseskan perhelatan piala dunia, media massa juga memiliki peran khusus dalam mengkonstruksi wacana-wacana tertentu yang diharapkan menjadi sorotan utama publik dunia. Tidak heran bila kemudian banyak kalangan yang turut “bersuara” di media massa saat euforia massa mencapai puncaknya. Tidak cukup hanya pelatih, pemain, atau jurnalis olahraga yang tampil di media. Pesohor alias selebritas pun ikut nimbrung, tidak peduli ia paham dan suka sepakbola atau tidak. Bahkan, pesulap, pejabat publik, hingga politikus tidak mau ketinggalan untuk ikut-ikutan “tampil” di media massa guna bicara bola. Sekali lagi, terlepas apakah ia memang punya perhatian khusus pada sepakbola atau tidak.

Fenomena tersebut memang sudah menjadi suatu hal yang lumrah. Apalagi, di ajang yang berlevel tingkat sejagat semacam piala dunia. Namun, dari yang dianggap lumrah inilah justru kita harus memunculkan pertanyaan kritis. Apakah memang semua itu perlu? Atau, jangan-jangan ini hanya bentuk lain dari ekspresi yang penulis sebut sebagai era “dunia-aku-yang-tampil”. Yaitu, era ketika dunia dipenuhi oleh orang-orang yang ingin tampil di pentas publik bukan karena ingin menyampaikan pesan-pesan tertentu yang memang menjadi ideologi hidupnya. Namun, mereka tampil karena hanya ingin tampil. Karena semua orang berusaha tampil, maka siapapun akan dianggap tidak atau kurang berarti bila tidak tampil. Meminjam ungkapan filsuf eksistensialis Descartes, dunia kini telah dipenuhi oleh orang-orang yang berprinsip, “Aku tampil, maka aku ada.” Atau, kata anak baru gede (ABG) zaman sekarang, “Biar tetep eksis!

Euforia milik semua

Apakah fenomena tersebut hanya milik Indonesia? Tentu saja tidak. Tengok saja bagaimana sikap reaksioner Presiden Perancis Nicolas Sarkozy ketika mengetahui kekrisuhan di dalam tubuh tim nasional mereka saat berlaga di Afrika Selatan. Perancis yang notabene finalis di ajang serupa empat tahun silam harus menerima nasib naas balik kandang lebih cepat dari dugaan setiap penggemarnya. Setibanya seluruh skuad di Perancis, sang presiden sampai meminta pemain senior mereka, Thierry Henry, untuk menemui presiden demi sebuah penjelasan akan situasi yang terjadi. Kontan saja hal itu membuat Presiden FIFA yang getol memperjuangkan independensi pengurus sepakbola dari intervensi negara sampai angkat bicara. Bila sikap turut campur Presiden Perancis tersebut terus dilakukan, FIFA mengancam akan menjatuhkan sanksi keras bagi timnas Perancis.

Hal serupa juga dialami tim dari Afrika, yaitu kesebelasan Nigeria. Setelah mengetahui nasib tim Nigeria juga setali tiga uang dengan tim-tim yang harus angkat kaki lebih dulu, Presiden Nigeria mengeluarkan keputusan agar timnas Nigeria dilarang bertanding di semua ajang internasional selama dua tahun. Tujuannya, agar seluruh pihak di Nigeria bisa membenahi dulu timnya di dalam negeri. Meskipun dari satu sisi sikap ini tampak patriotik dan bertanggungjawab, tetapi FIFA justru melihatnya sebagai bentuk intervensi negara dan Nigeria berpeluang mendapat sanksi tegas. Begitulah potret euforia bola yang melanda para kontestan ajang Piala Dunia. Banyak pihak merasa ingin terlibat dan berhak untuk “tampil” ketika tragedi menerpa. Bila kesuksesan yang didapat, pihak yang akan mendekat dan tampil akan meningkat lebih banyak lagi.

Bila euforia macam begitu melanda negeri peserta piala dunia, bagaimana dengan euforia yang terjadi di belahan bumi yang lain yang timnya tidak ikut berlaga? Di sinilah letak keunikan berikutnya dari sihir bola ini. Dalam setiap perhelatan piala dunia, selalu ada pomeo yang berkembang di kalangan jurnalis yang membagi negara-negara di dunia ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah grup negara elit, yaitu para peserta rutin putaran final piala dunia berikut juga tuan rumah penyelenggara. Brasil, Jerman, Italia, Argentina bersama tiga negara lainnya yang telah meraih gelar juara dunia adalah penghuni kelompok elit ini. Pada perhelatan tahun ini Afrika Selatan meski belum punya kiprah banyak, tetapi karena posisinya sebagai tuan rumah, masuk juga ke dalam kelompok ini.

Kelompok kedua adalah kelompok medioker alias kelas menengah. Negara-negara yang sudah kerap tampil di putaran final tetapi prestasinya begitu-begitu saja adalah penghuni kelompok kedua. Sejumlah negara dari Asia, Afrika, dan sebagian dari Amerika Latin adalah penghuni grup medioker ini. Selanjutnya, kelompok negara paling bawah adalah mereka yang sebenarnya tidak punya andil langsung dalam ajang piala dunia. Ini adalah kelompok negara dan bangsa yang sebenarnya jumlahnya paling banyak. Pasalnya, hanya 32 negara yang sebenarnya menjadi kontestan. Belasan bahkan ratusan negeri lainnya tidak ada andil langsung selain tentunya menjadi massa penonton. Dalam bahasa pemikir posmodernis Perancis, Jean Baudrillard, kelompok ini adalah the silent majority. Atau, dalam bahasa jurnalis olahraga Indonesia yang kerap meliput piala dunia, kelompok ketiga ini berisi negara-negara antah berantah.

Negeri antah berantah

Disebut antah berantah karena tidak pernah dikenal dalam pentas pesta sejagat ini. Walhasil, perlakuan terhadap bangsa antah berantah ini pun berbeda dengan dua kelompok sebelumnya. Para pewarta foto Indonesia merasakan benar bagaimana perlakuan yang berbeda itu terjadi ketika mengurus akreditasi wartawan dan saat meliput di lapangan. Jangan harap pewarta foto dari media Indonesia bisa bertengger dengan mudahnya di tepi lapangan hijau. Secanggih apapun perangkat kamera yang dibawa tidak membuat panitia lokal melunakkan sikap untuk menempatkan para jurnalis Indonesia di posisi pengambilan strategis dari tepi lapangan. Apakah pewarta foto kita kalah canggih, kalah bagus karyanya? Tentu saja bukan. Karena label berasal dari negeri antah berantah sepakbola itulah yang menempatkan posisinya demikian. Alhasil, para jurnalis kita pun harus ikhlas berada di podium penonton dan mengambil gambar dari posisi di atas yang jauhnya minta ampun.

Orang pernah bilang kalau sebenarnya Indonesia pun punya andil dalam ajang piala dunia meski belum pernah sekalipun tampil membawa nama negara ini. Ada yang bilang sepatu dan bola yang ditendang-tendang para bintang itu dibuat oleh pengrajin dan buruh di Indonesia. Ada juga yang mengatakan bahwa benih rumput terbaik untuk lapangan sepakbola berasal dari rumput negeri tropis, dan salah satunya adalah Indonesia. Kalaupun informasi ini benar, hal itu tidak cukup untuk menaikkan kelas dari negeri antah berantah ke kelas di atasnya. Kebanggaan akan hal ini pun sifatnya semu semata.

Peran terbesar negeri antah berantah, termasuk Indonesia, pada ajang semacam piala dunia adalah sebagai penonton. Inilah peran utama kita yang telah menaikkan pundi-pundi pendapatan FIFA dan seluruh mitranya selama perhelatan ini berlangsung. Kita adalah pasar yang akan terus dikomodifikasi dan dieksploitasi. Sudah sepatutnya ucapan terima kasih dari FIFA dilayangkan juga ke bangsa-bangsa di seluruh negeri antah berantah sepakbola.

Memori sosial bangsa

Situasi tersebut membentuk sebuah memori sosial atau rekaman wacana bersama yang terus menerus hidup di benak sosial setiap bangsa. Brazil akan selalu bangga dengan memori sosial sebagai perengkuh gelar juara terbanyak (5 kali). Apalagi, empat tahun mendatang giliran tarian Samba Brazil yang akan menyambut semua kontestan berikut seluruh penggemarnya dalam ajang serupa. Memori sosial mereka sebagai bangsa dengan jumlah pemain sepakbola profesional terbanyak di dunia tentu akan menambah gairah mereka sebagai tuan rumah pada 2014 mendatang. Belum lagi memori sosial yang tak kalah penting bahwa sepakbola bukan sekadar olehraga di negeri itu, tapi merupakan nafas dan denyut dalam kehidupan mayoritas warganya.

Meski tidak sepopuler di Brazil, memori sosial bangsa Jerman akan sepakbola negeri mereka juga tak kalah positif. Fakta sebagai tim paling stabil, tidak pernah absen dalam putaran final, dan selalu lolos ke babak kedua ini tentu menciptakan memori sosial bersama yang menaikkan rasa bangga setiap orang yang mengaku sebagai orang Jerman. Begitu pula dengan seterunya, Argentina. Meski di perhelatan lalu Argentina tidak berhasil mencapai tangga juara, memori sosial bangsa itu terutama lewat ikon hidupnya, Diego Armando Maradona, tentu tidak bisa diremehkan sebagai satu kekuatan tersendiri. Korea Selatan dan Jepang, dua negeri dari Asia Timur yang makin hari makin matang sebagai tim sekaligus sebagai bangsa yang kuat, tentu tak bisa diremehkan kembali. Memori sosial dua bangsa itu sedang berada di puncak kebanggaan dan optimisme.

Selanjutnya, memori sosial macam apa yang kita miliki? Susah untuk tidak menyebut diri sebagai bangsa penonton! Kata orang Jawa, bangsane tukang ndelok, kendele mung alok (beraninya cuma berkomentar). Selama tidak ada langkah strategis dan taktis serta cukup revolusioner yang diambil semua pihak, memori sosial bangsa ini atas sepakbola dan karakter bangsa akan jalan di tempat. As a silent majority, riuh dalam jumlah tapi hening dalam kiprah.

Daripada pusing-pusing menaikkan kelas dari negeri antah berantah ke negeri elit sepakbola, rasanya lebih penting untuk menggali dan menghidupkan kembali memori sosial yang lain saja. Kita hampir lupa kalau kita ini bangsa bulutangkis. Kita hampir alpa kalau kita pernah punya memori sosial yang indah dengan sabetan Tan Joe Hok, perkasanya tim Thomas-Uber, liatnya Rudy Hartono, tangguhnya Liem Swie King, serasinya Susi Susanti-Alan Budikusuma, bangganya Piala Sudirman, duet indah Ricky Subagja/Rexy Mainaky, dan senyum kemenangan Hendrawan. Ke mana perginya semua memori sosial itu? Jangan-jangan kita sudah lupa kalau kita ini bangsa bulutangkis, seperti kita sudah lama alpa kalau kita ini bangsa agraris.

[Dimuat di Harian BERNAS JOGJA, 15 Juli 2010]

Advertisements

One thought on “Euforia Bola, Media Kita, dan Memori Sosial Bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s