Merasakan Sengatan “Slumdog Millionaire”

Film yang menggetarkan!

slumdog_millionaire_poster-1Itu komentar ringkas, tapi sekaligus menggambarkan keseluruhan kesan saya atas film Slumdog Millionaire besutan sutradara Inggris, Danny Boyle. Di sini saya tidak akan mengupas seluk beluk film peraih 8 Oscar dan sejumlah penghargaan bergengsi lainnya itu. Untuk film yg sudah “menggetarkan” dunia sejak penghujung akhir 2008 hingga kini tsb ulasannya sudah begitu banyak, silakan saja langsung cek ke link berikut, atau masuk saja ke official websitenya di sini dan di sini juga.

Kali ini saya ingin lebih mengutarakan perasaan saya sebagai penonton film tsb. Saya sengaja menonton filmnya langsung tanpa sebelumnya membaca berbagai ulasan, kritik, dan komentar ttg film ini. Saya sedang mencoba menjadi penonton bebas, yang bebas merasakan apa yang disajikan dalam sebuah tontonan bertajuk Slumdog Millionaire (selanjutnya saya sebut SL). Apa yang terjadi? Saya berhasil mendapatkan kesan yang mendalam atas SL. Salah satu penyebabnya tentu saja karena film ini sendiri sudah kuat sejak dari konsep dasarnya, lalu ceritanya, sinematografinya, dan yang terutama: nilai-nilai yang muncul di dalamnya.

Belakangan baru saya sedikit-sedikit mulai melirik berbagai ulasan ttg SL. Saya tidak sejalan dengan pendapat dan ulasan yang mengatakan bahwa SL adalah film tentang India masa kini, khususnya di daerah Mumbai. SL adalah film tentang manusia dan kemanusiaan. Di dalamnya tersebar sekaligus terangkai berbagai nilai-nilai dasar kemanusiaan yang dibalut kondisi kebudayaan kontemporer yang tidak bisa lepas dari sentuhan media. Nilai-nilai itu adalah kejujuran, kebersahajaan, dan perjuangan. Semua itu bertumbukan dengan sifat-sifat yang lebih hegemonik seperti ketamakan dan rasa dengki pada keberhasilan orang lain. Sementara, wujud kebudayaan kontemporer yang menghegomoni setiap sendi kehidupan manusia modern sangat jelas terrepresentasikan melalui “kuis Who Wants to be A Millionaire” yang memang telah menjadi salah satu ikon global.

Saya bergetar karena nilai-nilai itu. Saya bergetar karena saya gemas pada hegemoniknya sifat-sifat destruktif seperti ketamakan dan dengki yang kini merajai peradaban manusia. Saya bergetar karena saya rindu pada kejujuran, perjuangan dan kebersahajaan. Saya bergetar saat menyaksikan film ini untuk pertama kalinya, kedua kalinya, bahkan hingga menuliskannya kini.

Bisa jadi Anda menganggap saya berlebihan, terlalu mendramatisasi, emosional, terlalu larut pada tontonan. Tapi, cobalah dulu saksikan film ini. Saksikan saja, enggak usah mikir berat-berat, enggak usah berhasrat bikin ulasan yang ndakik-ndakik. Tonton saja, dan rasakan sengatannya. Karena, SL bukan hanya bicara mengenai India, tapi tentang manusia dan kemanusiaan, dan tentu saja termasuk kita di dalamnya.

4 thoughts on “Merasakan Sengatan “Slumdog Millionaire”

  1. Reviewnya juga enak dan ndak ndakik-ndakik. Masih proses download nih. Gimana dengan Seven Pounds-nya Will Smith?

    Confessions of a Shopaholic…duh duh…saya kecewa. Tak pikir akan di-probing why dan how-nya. Ala Oprah gitu. Ternyata ceritanya terlalu flat. Happy ending dan mudah ditebak.

  2. Meski film ini cukup ‘jujur’, terkadang masih ada juga bagian yang ‘naif’, seperti adegan penjahat yang ‘rajin’ shalat… 😀 Pendekatannya tidak begitu kritis, tapi memang cukup menohok dengan kenyataan tentang bagaimana marjinalnya kaum muslim di India… SAlam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s