“Gapura Mataram” Menyapa Pembaca

 

Pelatihan media komunitas di Sayangan, bertemu setiap Selasa malam di pendopo
Pelatihan media komunitas di Sayangan, bertemu setiap Selasa malam di pendopo

Medio April lalu, tepatnya sejak 15 April hingga 6 Mei 2008, saya jadi sering bolak-balik ke perkampungan di daerah Kotagede, Jogja. Persisnya di Dusun Sayangan, Jagalan. Kampung ini sudah masuk wilayah Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Wilayahnya mudah dikenali dan dijangkau karena persis di sekitaran Masjid Kotagede, salah satu situs bersejarah peninggalan Kerajaan Mataram Islam. 

 

Tapi, keperluan saya keluar masuk di sana tak ada sangkut pautnya dengan urusan sejarah atau Kerajaan Mataram. Saya diundang menjadi fasilitator merangkap trainer untuk membantu menghidupkan keberadaan media komunitas yang dikerjakan pemuda-pemudi di wilayah tersebut. Awalnya, ini hanyalah salah satu kegiatan mahasiswa yang tengah KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari Universitas Islam Indonesia (UII). Undangan kepada saya pun datang dari mereka. Namun, setelah saya berbincang-bincang di awal, ternyata mereka belum siap dengan desain programnya. Alhasil, saya usulkan beberapa hal agar kegiatan itu tidak sekadar ada dan lalu jadi sia-sia.

Target utamanya adalah para pemuda-pemudi Sayangan berhasil membuat dan menerbitkan media komunitas. Saya tambahkan target penting lainnya, yaitu setelah tidak ada lagi program KKN, kawan-kawan dari Sayangan mesti dapat melanjutkan keberadaan media komunitasnya secara rutin. Dengan kata lain, bekal penguatan kapasitas para pelakunya lah yang lebih penting diutamakan daripada sekadar membantu menerbitkan sebuah produk media. 

Dari situlah kemudian saya susun programnya. Sesederhana mungkin, tapi dapat dijalankan dan diterapkan. Sepekan sekali, saban Selasa malam, ada kumpulan yang diadakan bersama saya. Jujur saja, awalnya saya masih ‘meraba-raba’. Saya tidak kenal komunitas ini, tidak paham karakter utamanya dan informasi yang saya dapatkan dari mahasiswa KKN juga terbatas. Dengan data dan info yang serba minim – sementara waktu mendesak, saya hanya punya waktu sebulan utk program pendampingan ini – akhirnya pertemuan pertama saya buat sebagai sebuah kajian dasar (baseline assessment). Di dalamnya juga saya sisipkan kajian kebutuhan (needs assessment), khususnya terkait dengan kebutuhan akan media komunitas di wilayah tsb. Metode yang saya pakai kala itu adalah kuesioner. Tentu saja dalam format yang sesederhana dan selugas mungkin. Satu halaman saja, tp concise.

Ternyata banyak dan beragam juga informasi yang saya dapatkan dari situ. Banyak juga yang tak disangka-sangka, jauh di luar perkiraan umum. Misal, terpaan media terhadap komunitas ini terbilang tinggi. Akses terhadap sumber informasi utama juga kuat. Keberadaan radio komunitas juga sudah dikenal di daerah tersebut. Selain itu, dari segi demografi, antara yang masih berstatus pelajar dan penganggur (baca: sudah lulus SMP atau SMA lalu bekerja serabutan) seimbang. Di sisi lain, semangat untuk berkarya bersama amat tinggi meski minim kemampuan. Atau sebenarnya, terlalu sering dianggap minim sehingga jadi minder di awal. Padahal, potensi yang dimiliki luar biasa. Berbekal informasi tsb saya melanjutkan dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya.

 

Seiring dengan berjalannya program, tingkat kepercayaan komunitas thd saya dan juga soal interaksi sosial juga berangsur-angsur rekat. Ini proses yang tak kalah penting dalam menjalankan intervensi program ala begini. Akhirnya, ketika masuk ke dalam tahap merancang media hingga kemudian berlatih me-manage media sendiri, rasa minder pelan-pelan berkurang. Prinsip partisipatoris saya utamakan dalam seluruh aktivitas, sehingga hal ini juga mampu menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) di antara mereka. Baik rasa memiliki terhadap produk yang akan dihasilkan bersama, maupun rasa memiliki terhadap komunitas tsb. Rasa memiliki adalah modal awal yang berharga untuk kemudian menumbuhkan rasa kepedulian. Menurut saya, di sinilah letak urat nadi utama sebuah media komunitas.

 

 

Diskusi dalam kelompok kecil saat merancang media komunitas di Sayangan
Diskusi dalam kelompok kecil saat merancang media komunitas di Sayangan

Setelah berkali-kali bertemu dalam “Kencan Selasa Malam”, akhirnya terbit jugalah produk perdana para pemuda-pemudi Sayangan. Dengan bangga mereka memberi tajuk Gapura Mataram bagi media komunitas mereka yang berbentuk buletin delapan halaman tersebut. Mereka pun punya filosofi yang mendasari nama tersebut. Selain juga berarti Garapan Pemuda dan Remaja Mataram, nama itu juga bermakna sebuah gerbang yg dalam bahasa Jawa adalah gapura, yakni gerbang pertukaran informasi di kalangan warga yang bercikal-bakal dan berkultur Mataram tsb. Media ini menyapa pembaca, seluruh warga RW 1 Sayangan, dan berusaha menjawab kebutuhan informasi mereka.

 

Rubrik-rubriknya pun khas demi menjawab kebutuhan komunitas mereka. Dari Pansus (Liputan Khusus), Sasa (Salam Sapa), Uneg-Uneg, Panutan, Sketsa Kita, Godain (Gosip Daerah Ini), Atiku (Aneka Tips KUampung), Genta (Agenda Kita), hingga Bedhekan alias kuis berhadiah. Rencananya, Gapura Mataram akan terbit empat sebulan sekali. Bila nanti lancar dan ada kebutuhan, periodisasi ini bisa diperpendek, mulai dari tiga bulan sekali, dua bulan sampai sebulan sekali.

 

 

Cikal bakal "Gapura Mataram" terbentuk dimulai lewat proses yang partisipatoris
Cikal bakal "Gapura Mataram" terbentuk dimulai lewat proses yang partisipatoris

Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah bahwa keberadaan media komunitas adalah sebuah modal sosial milik komunitas. Yang tentu saja, harus dijaga bersama keberlanjutannya, dikelola dan didanai bersama, demi manfaat bagi bersama pula.

 

 

Meski ini bukan pengalaman pertama saya mendampingi pembuatan media komunitas, tapi tetap saja saya belajar hal-hal baru. Salah satunya, pengalaman ini memperkuat tesis utama dari studi ttg komunitas bahwa pengetahuan dan kemampuan itu tidak memusat secara elit di kalangan tertentu. Namun, tersebar dan ada di mana-mana. Persoalannya kemudian, mau enggak kita berubah? Tidak lagi sekadar jadi sosok yang sok tahu dan sok hebat, berlagak seperti mesias yang turun dari surga untuk menyelamatkan dunia. Sekali-kali mbok ya yang prasaja, belajar dong untuk mau menjumput berbagai pengetahuan dan kearifan yang tersebar di sekitar kita. Dekat situ saja kok, enggak perlu jauh ke mana-mana.

Salam.

3 thoughts on ““Gapura Mataram” Menyapa Pembaca

  1. wah semoga usahanya berkah…. sayang banget… kalau kota gede tak dirawat. nah usaha merawat kan dimulai dari berbagai lini… termasuk bikin media . duh kangen keluyuran dan berziarah di kota gede nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s