Beberapa minggu belakangan ini aku mengusik diri dengan sebuah pertanyaan, “Mungkinkah seorang wartawan atau jurnalis tetap menjalankan kerja-kerja jurnalistiknya tanpa terikat pada media tertentu?”

Atau, dengan kata lain, mungkinkah seorang wartawan tetap jadi wartawan tanpa harus bekerja di media tertentu. Bukan sekadar jadi jurnalis lepas atau freelance journalist. Tapi, aku mendamba sebuah tatanan yang mengakui eksistensi wartawan tanpa ia harus terikat secara administratif dengan satu media tertentu. Dia bebas melaporkan atau mereportase apapun, dari sudut pandang manapun, bebas pula menuliskannya di medium apapun dengan cara bagaimanapun. Adakah?

Advertisements

12 thoughts on “Wartawan Tanpa (Terikat) Media

  1. tatanannya yang harus diubah?
    atau..
    pola pikir manusianya yang harus diubah?
    seperti memperdebatkan guyonan lawas ya..
    “duluan mana, ayam atau telor?”
    ^_^

  2. hehe.. makasih atas apresiasinya di blog saya.

    “Mungkinkah seorang wartawan atau jurnalis tetap menjalankan kerja-kerja jurnalistiknya tanpa terikat pada media tertentu?”

    MUNGKIN..

    Kalo saya usul Goenawan Mohamad sebagai presiden jurnalis Indonesia setuju nggak mas..? Hehe.. 🙂

  3. klo aku sih setuju-setuju saja.
    yg susah setuju kan yg punya kepentingan,
    terutama kepentingan bisnis.

    lha wong bisnis media jurnalistik skrg kan sdh ganti prinsip,
    dari penyuara kepentingan publik
    jd market-driven journalism.
    ya kan?!

  4. bisa ajah tuh…

    kata orang,pers sebagai salah satu pilar demokrasi…sedangkan saat sekarang tidak sedikit pers yang tidak independen..juga tidak sedikit beredar jurnalis/wartawan bodrek…

    dibutuhkan banyak jurnalis yg independen,tidak melayani pesanan tertentu,yg mau menulis keadaan apa adanya,,

  5. aku jujur ingin sekali menjadi freelancer journalist… tetapi mengingat kini kita tahu dunia internet telah ada.itulah menjadi fasilitas dari journalist masa kini…

  6. halo bang zaki,nimbrung ya..

    sepengetahuan saya, wartawan tanpa terikat media itu bisa masuk dalam definisi lain dari citizen journalism. ketika pers sbg institusi tdk bisa dijadikan sandaran (utamanya atas fungsi surveillance-nya dalam konsep the fourth estate) karena terikat berbagai kepentingan (t’masuk intervensi negara dan pemilik media), masyarakat sendiri bisa mengambil peran sebagai pengawas. Tdk perlu hrs masuk ke media itu sendiri, toh sudah cukup ruang dgn adanya perkembangan budaya blogging, yg pntg tinggal bagaimana membangun komunitas masyarakat yg kritis dan aktif dlm kerangka citizen journalism..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s