Siaran Radio: “Public Service with Personal Approach”

Sudah lama aku tidak benar-benar mendengarkan radio. Sudah lama juga tidak bersinggungan di dunia siaran lagi sejak mengenalnya pertama kali di pertengahan 2001 dan kutinggalkan betul-betul di akhir Maret 2004. Tapi, semalam—lebih tepatnya dini hari tadi—aku tiba-tiba kembali jadi pendengar radio. Bukan cuma menyalakannya untuk mengisi kesenyapan malam, tapi benar-benar mendengarkan.

 

Gara-gara espresso di vanilla latte yang kuminum sebelumnya, jadilah mata ini tidak mau diajak kompromi untuk tidur. Sambil menghabiskan novel yang sedang kubaca, kupasang earphone dari MP3 recorder, kuputar menu FM radionya dan secara kebetulan tertambatlah aku di sebuah program bertajuk Insomnia. Kebetulan berikutnya, program itu diputar di stasiun radio tempat pertamaku siaran dulu!

Kebetulan ketiga, lagu-lagu yang diputar berformat after hits alias tembang-tembang bukan baru yang dulu sempat jadi hits saat awal kemunculannya. Beruntunglah aku karena banyak yang kukenal juga lagunya. Alhasil, bukan lagi sekadar memanjakan telinga, tapi emosiku jadi ikut terlibat juga.

 

Ingin juga rasanya ikut nimbrung di acara tersebut. Kutelponlah radio itu. Setelah beberapa kali nada sambung, akhirnya ada juga yang mengangkat. “Ya, ada apa ya?” suara perempuan di ujung telepon, lengkap dengan nada datarnya. Kujelaskan kalau aku ingin bicara langsung dengan penyiarnya. Tidak perlu phone live atau on-air, tapi paling tidak bisa ngobrol langsung dengan penyiarnya sambil pesan lagu.

 

Tapi, apa yang kudapat. Justru kalimat pendek ketus yang meluncur dari penyiar itu, “SMS aja, Mas. SMS aja ya!”

 

Rupanya dia ogah meladeni telpon karena menurut SOP kerjanya sekarang hubungan pendengar dengan radio itu hanya bisa lewat SMS. Khususnya untuk program malam itu. 😦

 

Menjadi Teman Pendengar

Aku kaget bukan main. Bukan soal keketusan penyiar itu, tapi lebih ke kenyataan baru yang kuhadapi malam itu. Kenyataan bahwa ada situasi yang sudah bergeser, berubah dari yang pernah kuyakini dulu. Ketika aku siaran dulu, aku dididik oleh mentorku (thanks to Mas Ibnu dan Mas Denny) bahwa penyiar atawa broadcaster bukan lah ‘penguasa microphone’. Ia adalah pelayan publik.

 

Dalam perjalanannya, aku menemukan tambahan konsep bahwa selain melayani publik, penyiar juga harus mengedepankan pendekatan personal. Mengapa? Hal ini karena karakter radio siaran itu sendiri. Radio, meskipun secara simultan didengarkan bersama-sama oleh massa atau banyak orang, tapi sebenarnya merasuk di ruang-ruang pribadi setiap pendengarnya. Radio didengarkan di kamar tidur, di ruang belajar, di pos satpam, bahkan di kamar mandi. Sendirian, tidak bersama-sama. Kalaupun didengarkan bersama-sama, setiap pendengar membangun maknanya sendiri-sendiri dengan pengalaman dengaran tersebut.

 

Oleh karena itu, mengapa sapaan kepada pendengar radio sebaiknya berupa sapaan untuk orang kedua tunggal, seperti kamu, elu, atau Anda. Bukan sapaan orang ketiga, apalagi jamak, seperti dia, kamu-kamu, atau mereka. Dari sinilah aku menyebut bahwa kerja penyiar radio adalah kerja melayani publik dengan pendekatan personal, it’s a public service with personal approach. Sebuah pandangan yang sekaligus juga sudah menjadi prinsip kerja penyiar bagiku.

 

Penyiar harus menjawab kebutuhan banyak orang, tapi tetap membangun kedekatan yang sepersonal mungkin. Dari sinilah aku sering mendapatkan pengalaman kontak dengan beragam pengalaman pendengar, lewat kisah-kisah mereka, keluh kesahnya, harapan-harapannya, ketakutan-ketakutannya, hingga mimpi-mimpinya. Aku tahu siapa profil pendengarku. Aku juga jadi lebih tahu program dan acara macam apa yang mereka butuhkan. Di sinilah letak penting prinsip tersebut.

 

Pengalamanku malam tadi membuktikan bahwa pemahaman penyiar radio muda yang kutelpon itu jauh dari yang kubayangkan. Aku juga heran jadinya bagaimana dia bisa memberikan masukan kepada Music Director (MD), Program Director (PD), hingga Station Manager (SM) tentang evaluasi maupun usulan acara dan programanya. Aku khawatir jangan-jangan sekarang pendengar tidak lagi jadi bagian penting dari praktik siaran radio, kecuali sebatas dilihat sebagai pasar: pasar iklan, pasar jualan. Ah, entahlah. Bisa jadi ini juga cuma celotehan seorang yang tak bisa tidur dan dikecewakan oleh satu-satunya ‘teman’ malam itu yang ternyata sudah tidak bisa lagi dianggap sebagai teman hidup di ruang dengar: r a d i o .

10 thoughts on “Siaran Radio: “Public Service with Personal Approach”

  1. di Radio…. aku dengar…. Wayang kesukaanku….
    Sayang mantan radiomu ndak ada wayangnya…. 😀

    btw, nuwun radione…. telah menemani malam malam ku.

  2. (OOT)
    well just note one thing from your statement upthere,

    ‘penyiar radio muda yang kutelpon itu jauh dari yang kubayangkan’

    are that old?? or are we that old??
    well I didn’t realize that I’ve finished my study 4 years ago untill I met with a man at pasar Flohmak yesterday. he ask me where did I Study?? well we’re gettin old every seconds mate…

    so… we’re waiting for your walimatul ursy invitation….hehhe…
    Hayyu, where are you?? aren’t you agree with that??? :p

    cempruts.multiply.com

  3. nah karna setuju dengan statement bahwa zaki dan aku sudah semakin tua, dimana kemampuan fisik semakin menurun menjelang usia 30 tahun.. ya… berartikan setuju juga to untuk undangannya…hehehehehe…

  4. @bowie ombo: ya, ya, ya, masuk akal, hahahahaha
    btw, cemprut-nya lucu2 mas, sayang ga bisa comment di blog-nya, au ga punya account multiply..

  5. bikin atuh dimultiply.. kalo ga pesen lewat zaki ajh..hehehehe
    dia kan salah satu agen cemprut di jogja, lebih tepat lagi satusatunya agen cemprut di jogja… wekekekkeke…. ato imel aja langsung ke cemprut@gmail.com

    anyway soal undangan… zak… gw ga ikutan lagi ahh……..
    btw yu.. kemana aja to mas mu itu??? aku kangen ama jenggotnya….hehehehehe..

  6. aduh, sudah terlalu banyak punya account, males ngurusnya, hehehe, saya kan salah satu yang nglarisi cemprut di Jogja (satu beli beneran, satunya dikasih, hehehe).

    soal undangan, mo ngikut jg gpp kok..

    mas zaki biasa, lagi (sok) sibuk, mungkin untuk mempersiapkan undangan, kakakakakakak

    (blog ini kok malah jd t4 chat ya? ;D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s