Massa Beringas, Pers yang Tertindas

Dunia pers nasional kembali tercoreng. Kali ini justru oleh ulah sekelompok mahasiswa di Jakarta yang main gebuk di dalam kampus terhadap seorang jurnalis media online detik.com, Andi Saputra. Kisah lengkap berikut foto-fotonya bisa dibaca nanti di bawah. Saya sertakan juga beberapa link berita yang terkait peristiwa tersebut.

Satu hal yang ingin saya tekankan dari peristiwa itu adalah bahwa sekarang kita tidak bisa lagi menyikapi kejadian semacam ini sebatas dalam konteks pelanggaran kebebasan pers. Jadi, jangan sampai peristiwa semacam ini cuma terfokus pada konfrontasi antara insan pers versus massa yang menghalangi kerja jurnalistik di lapangan.

Fenomena tersebut mesti kita lihat lebih luas lagi. Saat ini, iklim besarnya menunjukkan bahwa kita sudah tidak lagi di bawah kungkungan rezim otoritarian maupun totalitarian. Demokrasi sudah didengung-dengungkan di mana-mana. Namun, peristiwa kali ini juga bukan soal demokrasi yang kebablasan. Karena, justru orang yang berucap demikian tidak paham akan demokrasi. Tidak ada kebablasan dalam demokrasi. Tapi, ada tanggung jawab dan pengertian bersama. Itulah esensi demokrasi.

Jadi, kalau ada sekelompok mahasiswa main gebuk di dalam kampus yang katanya disebut-sebut sebagai kampus reformasi itu, soalnya terletak pada keberingasan massa yang telah meleburkan identitas personal. Mereka “berani gila” ketika berada dalam kerumunan, dalam crowd yang menenggelamkan identitas pribadi. Tak ubahnya dengan geng motor yang tengah mewabah bikin ulah. Bahwa yang sekarang kena apes adalah insan pers, itu bukti lanjutan kalau massa beringas tersebut memang sejenis makhluk bodoh yang tak pernah mau menggunakan akal sehatnya. Musuh pers di era Reformasi sekarang datang dari banyak arah. Tidak hanya dari penguasa zalim dan korup, tapi juga dari publik mereka sendiri. Tidak terkecuali para mahasiswa yang lupa identitas personal dan tanggung jawab moralnya tersebut.

Alhasil, kini bertemulah para pengacau beringas itu dengan pasal-pasal kebebasan pers yang dijamin undang-undang. Bertemulah mereka dengan pelanggaran hak asasi manusia, terutama terkait dengan hak publik atas informasi yang berhak diketahui khalayak (public right to know bersanding sejajar dengan public right to express). Sekarang tinggal menunggu kiprah para penegak hukum. Semoga mereka tidak sebodoh massa beringas itu, yang sudah bikin pers kian tertindas.

Silakan baca laporannya di sini, atau di sini juga ada. Lebih lengkap lagi klik di sini.

Simak juga email salah satu rekan jurnalis yang saya forward berikut ini:

————

 

kebrutalan thd jurnalis di unika atma jaya - 1Ini adalah foto penganiayaan mahasiswa-mahasiswa Unika Atmajaya terhadap wartawan detik.com Andi Saputra. Seperti yang telah banyak diberitakan, Andi sedang melakukan peliputan tentang tewasnya mahasiswa Atma Yoshua, akibat terjatuh dari lantai 12, gedung parkir Unika Atmajaya. Hasil visum RSCM menunjukkan, tes darah dalam tubuh Yoshua mengandung 80 miligram alkohol.

Peliputan yang juga banyak dilakukan oleh banyak media, bukan hanya Andi semata, ternyata tidak dikehendaki oleh para mahasiswa Atmajaya. Mereka tidak menginginkan tewasnya Yoshua dipublikasi. Begitupun terhadap para petugas kepolisian. Para mahasiswa selain menghalang-halangi peliputan, juga sempat menghalangi para petugas kepolisian untuk melakukan evakuasi. Bahkan, petugas kepolisian juga sempat kesulitan untuk membantangkan police line di TKP.

Para mahasiswa tersebut, secara kasar telah mengusir para wartawan yang sedang melakukan tugas peliputan. Namun, entah mengapa Andi yang menjadi sasaran kemarahan mereka. Beberapa mahasiswa Atma secara kasar telah merebut kamera poker digital yang digunakan Andi untuk memotret proses evakuasi korban Yoshua oleh pihak kepolisian. Seluruh foto-foto dalam kamera tersebut, oleh para mahasiswa dihapus.

Tak cukup itu, mahasiswa itu pun mengeroyok dan memukuli Andi. Sebelumnya Andi sudah mengatakan bahwa dirinya adalah wartawan. Para mahasiswa sempat berhenti melakukan kekerasan. Namun, mereka kembali melanjutkan aksi kekerasannya. Andi sempat melarikan diri. Tapi, beberapa mahasiswa kembali mengejarnya dan melakukan kekerasan secara pengecut. Andi dipukuli di bagian belakang kepalanya. Seperti kita ketahui, daerah belakang kepala merupakan daerah yang rawan terhadap benturan.

Menurut keterangan Andi kepada kawan-kawan wartawan dan pihak Polda Metro Jaya, dari mulut para mahasiswa yang memukuli dirinya, berbau minuman alkohol yang sangat santer.

Seorang kawan fotografer dari harian Rakyat Merdeka Susanto, yang berada di lokasi kejadian dan berada tidak jauh dari Andi, tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Andi. Namun, Santo membantu dengan cara lain. Dia dengan cerdik berhasil mengabadikan aksi kekerasan itu. Santo memotret dengan cara menyembunyikan kameranya di sisi samping belakang badannya. Dengan posisi sulit seperti itu, Santo berhasil memotret Andi yang sedang dikeroyok para mahasiswa Atma.

kebrutalan thd jurnalis di unika atma jaya - 2Foto-foto penganiayaan ini sudah dijadikan bukti utama oleh Polsek Setiabudi dan Polda Metro Jaya untuk mencari para pelaku. Sampai saat ini polisi masih mencari para pelaku. Polisi sudah mensweeping kampus Atma, namun para pelaku hingga saat ini menghilang dari aktivitas kampus.

Jadi, inilah kekerasan dari kampus reformasi yang juga menyuarakan anti kekerasan. Terutama tuntutan pengungkapan aksi kekerasan Semanggi I & II yang terjadi pada sebagian besar para mahasiswa Atmajaya pada saat itu.

Di sisi lain sebagian besar para wartawan, juga mendukung pengungkapan aksi kekerasan atas peristiwa Semanggi I & II. Selain itu, sebagian besar wartawan juga menjadi pelaku sejarah terjadinya peristiwa Semanggi I & II. Inikah balasan para mahasiswa-mahasiswa , yang notabene junior itu, kepada para wartawan. Hanya karena ingin menutup-nutupi “kecelakaan” yang dialami Yoshua. [oleh: Harry okezone.com – tolong disebarkan]

3 thoughts on “Massa Beringas, Pers yang Tertindas

  1. wah..kbtln aku kenal andi n santo..

    keduanya tmnku pas msh tugas di jakarta selatan..

    (jd peristiwa ini yg bikin mereka berdua kompak yah…)

    jd wartawan emang full of risk. bbrp waktu yg lalu, teguh firmansyah, seorang teman saya di republika, juga diancam mau ditembak sama kepala sekuriti di kelapa gading, jakarta utara..

    kejadiannya nyaris sama, si teguh sedang meminta keterangan sejumlah saksi di tkp. waktu itu ada kasus pegawai kelapa gading meninggal di tempat tersebut. tanpa diduganya ia ditarik oleh si sekuriti dan dibawa di pos jaga. di sana ia diintimidasi hingga keluarlaj dari mulutnya ucapan “jangan macam2!!! nanti saya tembak kamu!!!!, teguh juga sempat disuruh meninggalkan identitas ktp dan kartu persnya…

    sy hingga kini msh bertanya-tanya: kapan ya orang benar-benar memahami profesi wartawan????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s