Selamat Pagi, Mari Buka Mata dan Buka Hati

The new source of power is not money in the hand of a few, but information in the hand of many.

Begitulah ungkapan terkenal dari Ziauddin Sardar, seorang jurnalis sekaligus ilmuwan kelahiran Pakistan 31 Oktober 55 tahun silam yang kemudian dibesarkan di London, Inggris. Setelah malang melintang dengan pergumulannya dalam berbagai wacana dan media, Sardar melihat bahwa kekuatan baru di era kini bukan lagi uang atau kapital yang banyak di tangan segelintir orang. Melainkan, informasi yang tersebar di pikiran ribuan bahkan jutaan warga dunia.

Kekuatan baru yang bernama “informasi” ini telah menjelma menjadi satu hal yang konkret sekaligus abstrak, bahkan absurd. Tidak seperti modal kapital yang nyata dan dapat terukur dengan eksak, informasi adalah hasil dari proses pergumulan kehidupan yang kompleks. Berkembang terus menerus, berubah dari hari ke hari, dan berseliweran di mana-mana. Siapa mampu “menguasai” informasi, dia akan menjadi pihak yang lebih unggul dari yang lainnya.

Di sinilah kemudian media memainkan perannya. Namanya juga media, berarti sifatnya memediasi atau menjembatani. Penghubung antara berbagai pihak yang berkepentingan atas informasi yang menjadi muatan media. Mengapa harus ada penghubung yang bernama media? Ya, karena dimensi kehidupan makin rumit, manusianya makin bejibun, sementara kebutuhan untuk saling terikat satu sama lain tidak dapat terabaikan. Jarak geografis teratasi oleh adanya media, meskipun hal ini tidak berbanding lurus dengan teratasinya jarak sosial dan jarak emosi antarindividu yang terlibat dalam interaksi tersebut. Soalnya tak lain karena kepentingan utamanya lebih condong kepada penguasaan atas informasi berikut akumulasi modal kapital ketimbang pemberdayaan masyarakat sebagai kekuatan yang cerdas dan otonom dalam peradaban manusia.

Informasi dilihat sebagai komoditi, tidak lebih. Akhirnya, kekuatan baru yang berbasis informasi itu hanya mengumpul secara oligarkis-monopolistis pada kelompok-kelompok tertentu. Entah itu kelompok penguasa politik maupun kelompok penguasa modal kapital, termasuk di dalamnya media massa arusutama (mainstream media). Tesis Sardar di atas pun harus diuji kembali. Apakah masih relevan dengan kondisi yang demikian?

Ternyata jawabnya: masih!

Pemicunya adalah berkembangnya internet sebagai medium baru yang memberikan “ancaman” sekaligus tantangan terhadap kehidupan media-media konvensional. Di era yang disebut-sebut membentuk generasi masyarakat informasi ini, internet menjadi tak terpisahkan lagi dalam kehidupan manusia. Berbagai instrumen dioptimalkan sedemikian rupa. Informasi menjadi kata kuncinya.

Peranan weblog

Weblog adalah salah satu instrumen lokomotif yang menjadi ruang gerak informasi yang sarat nuansa “pembebasan”. Di sinilah tesis Sardar tersebut mendapat tempatnya kembali. Kekuatan baru itu terletak pada mereka yang mampu “menguasai” informasi-informasi kunci. Tinggal bagaimana arah dari penguasaan informasi tersebut bergerak. Jika demokratisasi dalam ruang maya (cyberspace) yang selalu digembar-gemborkan ini menemukan bentuknya yang optimal, maka kekuatan itu tidak akan berpusat pada sekelompok orang saja, tetapi berpendar meluas di seluruh warga dunia. Informasi milik kita semua, informasi bisa kita konstruksikan bersama, sekaligus kita re-konstruksi bersama. Ada dialog terbuka di situ. Ada dialektika yang tak melulu bergerak dalam tradisi linear Hegelian macam tesis—antitesis—sintesis. Akan tetapi, dialektika kini bersifat sirkular, berputar-putar, difusif, tetapi tetap progresif dan konstruktif. Ya, begitulah.

Pandangan itu jugalah yang mendasari kelahiran weblog melek media ini. Gerakan media literacy atau masyarakat melek media memang tengah menjadi perhatian utama saya. Prinsip dasar dari gerakan ini adalah khalayak atau audiens media adalah pihak yang aktif dan punya hak atas arah perkembangan media yang ada berikut isi/muatan informasinya. Institusi media tidak bisa mengabaikan satu komponen yang amat penting ini, yaitu audiens mereka. Media tidak bisa disebut hidup dalam kondisi yang “sehat” jika hanya mengindahkan kepentingan pemodal, negara (baca: pemerintah), dan pengelola media saja. Audiens bukanlah objek penderita, melainkan subjek aktif yang juga bukan sekadar punya andil manakala tengah diposisikan pengelola media sebagai narasumber. Audiens juga punya andil sehari-hari dalam sistem sosial tempat institusi media itu berada.

Perspektif itulah yang mendasari sikap bahwa kita sebagai audiens harus memahami bagaimana pola sifat dan pola kerja media. Sehingga, hal ini akan menggiring kita sebagai audiens yang dapat bersikap kritis terhadap media. Sementara itu, manakala kita sedang berposisi sebagai pengelola atau pekerja media, maka kita juga akan melihat audiens sebagai mitra dialog dalam kerja sehari-hari. Apa yang ada di pikiran audiens juga penting, apa yang menjadi keresahan dan harapan audiens juga punya makna yang tidak bisa kita abaikan begitu saja.

Di sinilah weblog melek media ingin berperan. Menjadi ruang pembelajaran literasi media bagi kita semua, entah kita yang kini berposisi sebagai audiens maupun kita yang tengah bertugas sebagai pekerja media. Komentar Anda bisa dituangkan langsung di blog ini, atau bisa juga dilayangkan melalui e-mail ke aku.zaki@gmail.com

Inilah ruang kita, ruang pembelajaran bersama, ruang untuk sama-sama selalu melek media!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s