<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>melek media</title>
	<atom:link href="http://melekmedia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://melekmedia.wordpress.com</link>
	<description>setetes embun di belantara media</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Sep 2009 06:42:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='melekmedia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/9907a68f796822ec51ebb03d216cd0a2?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>melek media</title>
		<link>http://melekmedia.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Mengenal Dunia Film Indonesia dari Kumpulan Corat-Coret Bung Misbach</title>
		<link>http://melekmedia.wordpress.com/2009/09/10/mengenal-dunia-film-indonesia-dari-kumpulan-corat-coret-bung-misbach/</link>
		<comments>http://melekmedia.wordpress.com/2009/09/10/mengenal-dunia-film-indonesia-dari-kumpulan-corat-coret-bung-misbach/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 06:42:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaki habibi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pustaka]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[sinema indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melekmedia.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Berapa banyak buku tentang film Indonesia yang ditulis dalam bahasa Indonesia? Tidak banyak! Anggapan ini memang tanpa dasar hitung-hitungan ilmiah. Tapi, cukuplah bisa disimpulkan begitu kalau kita amati selintas maupun seksama di rak-rak toko buku. Bandingkan jumlah buku mengenai film Indonesia dengan buku-buku bertema lain, katakanlah, buku psikologi populer, manajemen, agama, apalagi komik-komik manga dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=79&subd=melekmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Berapa banyak buku tentang film Indonesia yang ditulis dalam bahasa Indonesia? Tidak banyak! Anggapan ini memang tanpa dasar hitung-hitungan ilmiah. Tapi, cukuplah bisa disimpulkan begitu kalau kita amati selintas maupun seksama di rak-rak toko buku. Bandingkan jumlah buku mengenai film Indonesia dengan buku-buku bertema lain, katakanlah, buku psikologi populer, manajemen, agama, apalagi komik-komik manga dari negeri Jepun sana. Di antara tumpukan tema-tema populer itu, terseliplah barang segelintir buku-buku tentang film Indonesia yang kadang sudah menghuni rak tersebut berbulan-bulan lamanya alias jarang laku.</p>
<p>Dari yang sedikit itu, berapa banyak buku tentang film Indonesia yang ditulis bukan sebagai suatu hasil kajian akademis? Lebih sedikit lagi! Jadi, amat bahagia saya ketika menemukan satu buku kecil di salah satu sudut rak toko buku dengan gambar <em>clapper</em> khas dunia film di sampul depannya. Judulnya pun jelas terbaca: <em>…Oh, Film.</em></p>
<p><span id="more-79"></span><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-82" title="IMG_1910" src="http://melekmedia.files.wordpress.com/2009/09/img_19102.jpg?w=100&#038;h=150" alt="IMG_1910" width="100" height="150" />Buku kecil yang “hanya” setebal 158 halaman ini ternyata memberi makna besar bagi saya. Oleh buku ini, saya dihanyutkannya masuk lebih dalam ke dunia film Indonesia. Sebenarnya buku ini berkategori fiksi karena berisi kumpulan cerita pendek (cerpen). Penulisnya, Misbach Yusa Biran, menyebutnya sebagai kumpulan “corat-coret” yang ditulisnya pada sekitar tahun 1957. Namun, susah untuk tidak mengaitkannya dengan dunia film Indonesia. Ada dua alasan. <em>Pertama</em>, karena penulisnya yang tak lain adalah sosok penting dalam perfilman Indonesia. Alasan <em>kedua</em> karena <em>setting</em> seluruh kisah di dalam buku ini berhubungan dengan dunia film.</p>
<p>Saya memang meminjam pendekatan semiotika untuk “membaca” kumpulan corat-coret Misbach ini. Saya membaca buku ini dalam edisi yang diterbitkan tahun 2008, dan saya melihatnya sebagai sebuah teks dalam konteks. Yakni, sebagai kumpulan tanda (<em>texts</em>) yang memiliki situasi penyerta (<em>context</em>) tertentu yang meletakkannya dalam pemaknaan tertentu. Selain itu, sebagai sebuah teks dalam konteks tersebut, saya juga “membacanya” sebagai bagian terhubung dengan teks-teks lain atau biasa disebut intertekstualitas.</p>
<p>Dari cara “membaca” yang demikian itulah saya bisa merasakan makna lebih dalam dari buku <em>…Oh, Film</em> ini dan mendapatkan suatu pembacaan yang membawa saya lebih mengenal dunia film Indonesia. Konteks pertama yang membawa saya kepada kesimpulan pemaknaan demikian adalah latar belakang penulisnya. Misbach Yusa Biran adalah “seseorang” dalam dunia film Indonesia. Selain dikenal sebagai penulis skenario film dan sineas, ia juga seorang wartawan film dan pendiri lembaga arsip film di negeri ini, Sinematek Indonesia. Jadi, jika seorang Misbach menulis cerpen berlatang dunia film Indonesia dan kemudian dibukukan dengan judul …oh, film, maka akan sangat sulit untuk melepaskan konteks tersebut dalam cara memaknai kisah-kisah itu sebagai sekelumit warna dalam perkembangan dunia film Indonesia.</p>
<p>Konteks berikutnya adalah kisah-kisah itu sendiri. Ada 16 cerita yang kesemuanya berlatar kisah di balik dunia film Indonesia. Dari mana bisa disimpulkan begitu? Dari setting lokasi ceritanya, dari tokoh-tokohnya, dan juga dari tema cerita itu sendiri. Ada cerita tentang bakal calon figuran yang selalu gagal bermain dalam film, ada juga figuran yang merasa sudah jadi mega bintang superstar. Di kisah lain, hadir pula pengalaman si bintang itu sendiri, sutradara yang kalah kuasa dengan sang produser, si penulis cerita yang siap terima pesanan cerita apa saja sesuai kemauan produser dan bintang utama, wartawan film yang jatuh hati pada bintang baru, hingga polemik antara film kampungan dengan film intelek. Tentu saja dengan segala problematika di dalamnya.</p>
<p>Satu hal yang menarik di sini adalah, Misbach mengantarkan saya sebagai pembaca untuk masuk lebih dalam menemui gambaran dunia film Indonesia lewat tokoh dan karakter-karakter yang menjadi bagian dari mesin penggerak perfilman Indonesia, justru bukan lewat gambaran atas karya film yang dihasilkan. Baik penggambaran lewat tokoh yang dianggap penting dalam industri film, maupun tokoh-tokoh pinggiran yang menganggap dirinya penting meski dunia di sekitarnya tetap selalu menempatkannya sebagai figuran kehidupan. Dengan kata lain, buku ini bicara tentang perfilman Indonesia secara lebih antropologis, khususnya lewat kisah “aktor-aktor kehidupan” di dalamnya.</p>
<p>Sekali lagi saya tegaskan bahwa saya menuliskan hasil pembacaan atas buku <em>…Oh, Film</em> lewat pendekatan semiotika. Dengan begitu, mengutip salah satu pemikir Perancis di bidang semiotika, Roland Barthes, saya juga memakai prinsip “<em>The author is dead.</em>” Katanya, pengarang telah mati. Apa yang ada di benak pengarang saat menyusun karyanya telah menjadi suatu hal yang tidak terlalu penting lagi bagi para pembacanya. Pembaca membangun maknanya masing-masing atas setiap karya yang dihadapinya. Begitu juga yang saya lakukan saat membaca buku ini.</p>
<p>Berhubung saya memiliki akses terhadap cara pandang yang demikian, berikut pula akses informasi atas konteks-konteks yang saya sampaikan di atas, jadilah makna atas buku ini begitu mendalam karena menggiring saya mengenal situasi dunia film Indonesia dari kacamata orang film itu sendiri. Baik di konteks waktu saat tulisan itu dibuat (1957), waktu di saat buku ini pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Jaya (1973), hingga saat buku ini diterbitkan kembali oleh KPG (2008) dan saat saya baca kali ini (2009). Semuanya berkelindan memberi pengaruh pembentukan kesan yang kian dalam bagi saya sebagai pembacanya.</p>
<p>Lewat kisah fiksi yang ditulis dengan sangat cair, penuh komedi di sana-sini, satir di beberapa bagian, terkadang komikal juga, dan mengangkat latar dunia film Indonesia, saya justru merasa lebih dekat dengan gambaran salah satu sisi realitas perfilman nasional: masa lalu, kini, bahkan bisa jadi cermin yang mendatang pula. Terima kasih Bung Misbach. Semoga sehat selalu, dan tetap bisa terus berkarya.</p>
<p>Terakhir, saya tutup tulisan ini dengan mengutip <em>endorsement</em> dari Seno Gumira Ajidarma di sampul belakang buku ini. Seno bilang, “<em>…Oh, Film</em> yang kini terbit kembali bukan sekadar menjadi hiburan berkelas karena ditulis dengan strategi humor yang sebagian besar jitu, tetapi juga merupakan dokumen sosial yang masih akan terus berjasa sebagai sumber pengetahuan di masa-masa mendatang.”</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-83" title="IMG_1912" src="http://melekmedia.files.wordpress.com/2009/09/img_1912.jpg?w=150&#038;h=132" alt="IMG_1912" width="150" height="132" />Judul buku         : <em>…Oh, Film</em></p>
<p>Penulis                 : Misbach Yusa Biran</p>
<p>Ukuran buku     : 13 cm x 19 cm</p>
<p>Halaman             : ix + 149 hlm</p>
<p>Tahun terbit      : 2008</p>
<p>Penerbit              : Kepustakaan Populer Gramedia (pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada 1973)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/melekmedia.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/melekmedia.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/melekmedia.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/melekmedia.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/melekmedia.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/melekmedia.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/melekmedia.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/melekmedia.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/melekmedia.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/melekmedia.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=79&subd=melekmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melekmedia.wordpress.com/2009/09/10/mengenal-dunia-film-indonesia-dari-kumpulan-corat-coret-bung-misbach/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/895baceac2d517de242bbaa40f325c10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://melekmedia.files.wordpress.com/2009/09/img_19102.jpg?w=100" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1910</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://melekmedia.files.wordpress.com/2009/09/img_1912.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1912</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Film Sinting yang Terus Menghentak Saya</title>
		<link>http://melekmedia.wordpress.com/2009/08/25/film-sinting-yang-terus-menghentak-saya/</link>
		<comments>http://melekmedia.wordpress.com/2009/08/25/film-sinting-yang-terus-menghentak-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 09:34:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaki habibi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sinema]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melekmedia.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Satu bulan terakhir, pikiran saya tidak lepas dari film. Beberapa kegiatan terakhir yang saya ikuti memang berhubungan dengan film, sebut saja di antaranya ajang pesta film Asia di Jogja, the 4th Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) yang berlangsung awal Agustus lalu. Beberapa hari setelahnya, saya mendapatkan undangan workshop penulisan kritik film. Lalu, pekan lalu saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=73&subd=melekmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Satu bulan terakhir, pikiran saya tidak lepas dari film. Beberapa kegiatan terakhir yang saya ikuti memang berhubungan dengan film, sebut saja di antaranya ajang pesta film Asia di Jogja, <a title="JAFF" href="http://jaff-filmfest.com/" target="_blank">the 4th Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF)</a> yang berlangsung awal Agustus lalu. Beberapa hari setelahnya, saya mendapatkan undangan workshop penulisan kritik film. Lalu, pekan lalu saya juga diminta mengisi pelatihan bagi para asisten laboratorium media mengenai penulisan data film untuk pusat dokumentasi media.</p>
<p>Tidak heran kalau pikiran saya pun jadi terus-menerus terhantui oleh sejumlah judul film. Terhantui di sini lebih berarti dipenuhinya pikiran dan perasaan oleh beberapa film yang masih saja melekat. Sesuatu yang asyik sebenarnya. Macam-macam penyebabnya. Bukan saja karena film-film ini bagus secara sinematis maupun aspek ceritanya, tetapi juga karena mereka ini terus menghentak di pikiran dan perasaan saya. Salah satunya adalah <em>Slingshot Hip Hop</em>.</p>
<p><span id="more-73"></span><a href="http://www.slingshothiphop.com/"><img class="alignleft size-medium wp-image-77" title="Slingshot Hip Hop" src="http://melekmedia.files.wordpress.com/2009/08/slingshot-hip-hop1.jpg?w=300&#038;h=188" alt="Slingshot Hip Hop" width="300" height="188" /></a>Ini adalah film dokumenter tentang kultur hip hop berbahasa Arab di Palestina. Film ini menjadi film penutup dalam ajang JAFF tahun ini. Kesan utuhku atas film ini adalah: <strong>sinting!</strong></p>
<p>Ya, sinting ceritanya. Dan  sinting juga proses pembuatannya. Sintingnya lagi, film ini mudah dipahami oleh mayoritas penonton dari kalangan apapun. Enggak perlu berkerut amat untuk memahaminya, enggak perlu paham konteks hip hop secara utuh, kita tetap bisa menikmati &#8211; dan sekaligus berempati &#8211; terhadap film ini secara utuh. Info lengkap tentang film ini bisa <a title="Slingshot Hip Hop" href="http://www.slingshothiphop.com/" target="_blank">klik di sini</a>.</p>
<p>Tapi, tentu saja enggak mungkin puas cuma merasakan kesintingan<em> Slingshot Hip Hop</em> sebatas membaca info filmnya. Harus nonton sendiri filmnya baru benar-benar bisa merasakan hentakannya. Yang sinting, yang gila. Bagaimana gilanya pendudukan Israel, bagaimana rendahnya nilai manusia bagi sebagian lain yang zalim, sekaligus juga hadir gambaran bagaimana perlawanan itu bisa muncul lewat lirik dan lagu, bukan dengan senjata dan batu.</p>
<p>Hingga kini di kepala saya masih terus menghentak beat dan lirik <em>Meen Erhabi?</em> (Who&#8217;s the Terorist), salah satu hits kelompok hip hop di Palestina yang menjadi warna utama film ini. Akankah tubuh dan jiwa saya ikut menghentak juga? Seperti para hip-hopers Palestina yang terus menghentakkan kerinduan akan tanah air, serta desakan atas kemanusiaan dan keadilan. <em>Meen Erhabi?! </em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/melekmedia.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/melekmedia.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/melekmedia.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/melekmedia.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/melekmedia.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/melekmedia.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/melekmedia.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/melekmedia.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/melekmedia.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/melekmedia.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=73&subd=melekmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melekmedia.wordpress.com/2009/08/25/film-sinting-yang-terus-menghentak-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/895baceac2d517de242bbaa40f325c10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://melekmedia.files.wordpress.com/2009/08/slingshot-hip-hop1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Slingshot Hip Hop</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merasakan Sengatan &#8220;Slumdog Millionaire&#8221;</title>
		<link>http://melekmedia.wordpress.com/2009/03/23/merasakan-sengatan-slumdog-millionaire/</link>
		<comments>http://melekmedia.wordpress.com/2009/03/23/merasakan-sengatan-slumdog-millionaire/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 07:31:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaki habibi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sinema]]></category>
		<category><![CDATA[Danny Boyle]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[India]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melekmedia.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Film yang menggetarkan!
Itu komentar ringkas, tapi sekaligus menggambarkan keseluruhan kesan saya atas film Slumdog Millionaire besutan sutradara Inggris, Danny Boyle. Di sini saya tidak akan mengupas seluk beluk film peraih 8 Oscar dan sejumlah penghargaan bergengsi lainnya itu. Untuk film yg sudah &#8220;menggetarkan&#8221; dunia sejak penghujung akhir 2008 hingga kini tsb ulasannya sudah begitu banyak, silakan saja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=70&subd=melekmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Film yang menggetarkan!</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-69" title="slumdog_millionaire_poster-1" src="http://melekmedia.files.wordpress.com/2009/03/slumdog_millionaire_poster-1.jpg?w=202&#038;h=300" alt="slumdog_millionaire_poster-1" width="202" height="300" />Itu komentar ringkas, tapi sekaligus menggambarkan keseluruhan kesan saya atas film Slumdog Millionaire besutan sutradara Inggris, Danny Boyle. Di sini saya tidak akan mengupas seluk beluk film peraih 8 Oscar dan sejumlah penghargaan bergengsi lainnya itu. Untuk film yg sudah &#8220;menggetarkan&#8221; dunia sejak penghujung akhir 2008 hingga kini tsb ulasannya sudah begitu banyak, silakan saja langsung cek ke <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Slumdog_Millionaire">link berikut</a>, atau masuk saja ke official websitenya <a href="http://www.foxsearchlight.com/slumdogmillionaire/">di sini</a> dan <a href="http://www.slumdogmillionairemovie.co.uk/">di sini juga</a>.</p>
<p>Kali ini saya ingin lebih mengutarakan perasaan saya sebagai penonton film tsb. Saya sengaja menonton filmnya langsung tanpa sebelumnya membaca berbagai ulasan, kritik, dan komentar ttg film ini. Saya sedang mencoba menjadi penonton bebas, yang bebas merasakan apa yang disajikan dalam sebuah tontonan bertajuk <em>Slumdog Millionaire</em> (selanjutnya saya sebut SL). Apa yang terjadi? Saya berhasil mendapatkan kesan yang mendalam atas SL. Salah satu penyebabnya tentu saja karena film ini sendiri sudah kuat sejak dari konsep dasarnya, lalu ceritanya, sinematografinya, dan yang terutama: nilai-nilai yang muncul di dalamnya.</p>
<p><span id="more-70"></span></p>
<p>Belakangan baru saya sedikit-sedikit mulai melirik berbagai ulasan ttg SL. Saya tidak sejalan dengan pendapat dan ulasan yang mengatakan bahwa SL adalah film tentang India masa kini, khususnya di daerah Mumbai. SL adalah film tentang manusia dan kemanusiaan. Di dalamnya tersebar sekaligus terangkai berbagai nilai-nilai dasar kemanusiaan yang dibalut kondisi kebudayaan kontemporer yang tidak bisa lepas dari sentuhan media. Nilai-nilai itu adalah kejujuran, kebersahajaan, dan perjuangan. Semua itu bertumbukan dengan sifat-sifat yang lebih hegemonik seperti ketamakan dan rasa dengki pada keberhasilan orang lain. Sementara, wujud kebudayaan kontemporer yang menghegomoni setiap sendi kehidupan manusia modern sangat jelas terrepresentasikan melalui &#8220;kuis Who Wants to be A Millionaire&#8221; yang memang telah menjadi salah satu ikon global.</p>
<p>Saya bergetar karena nilai-nilai itu. Saya bergetar karena saya gemas pada hegemoniknya sifat-sifat destruktif seperti ketamakan dan dengki yang kini merajai peradaban manusia. Saya bergetar karena saya rindu pada kejujuran, perjuangan dan kebersahajaan. Saya bergetar saat menyaksikan film ini untuk pertama kalinya, kedua kalinya, bahkan hingga menuliskannya kini.</p>
<p>Bisa jadi Anda menganggap saya berlebihan, terlalu mendramatisasi, emosional, terlalu larut pada tontonan. Tapi, cobalah dulu saksikan film ini. Saksikan saja, enggak usah mikir berat-berat, enggak usah berhasrat bikin ulasan yang <em>ndakik-ndakik</em>. Tonton saja, dan rasakan sengatannya. Karena, SL bukan hanya bicara mengenai India, tapi tentang manusia dan kemanusiaan, dan tentu saja termasuk kita di dalamnya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/melekmedia.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/melekmedia.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/melekmedia.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/melekmedia.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/melekmedia.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/melekmedia.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/melekmedia.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/melekmedia.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/melekmedia.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/melekmedia.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=70&subd=melekmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melekmedia.wordpress.com/2009/03/23/merasakan-sengatan-slumdog-millionaire/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/895baceac2d517de242bbaa40f325c10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://melekmedia.files.wordpress.com/2009/03/slumdog_millionaire_poster-1.jpg?w=202" medium="image">
			<media:title type="html">slumdog_millionaire_poster-1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Para Pencari Tuhan&#8221;, Adakah DVD-nya?</title>
		<link>http://melekmedia.wordpress.com/2008/10/14/para-pencari-tuhan-adakah-dvd-nya/</link>
		<comments>http://melekmedia.wordpress.com/2008/10/14/para-pencari-tuhan-adakah-dvd-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 07:48:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaki habibi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kotak Ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[PPT]]></category>
		<category><![CDATA[sinetron]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melekmedia.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Selama Ramadhan lalu, saya sedikit punya harapan lagi kepada tontonan televisi. Sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) kembali tayang lewat sekuel keduanya, Para Pencari Tuhan Jilid 2. Sudah begitu banyak ulasan di berbagai media massa tentang sinetron garapan aktor-sutradara-produser Deddy Mizwar ini. Begitu juga posting di blog-blog yang memberi salut pada sinetron produksi PT Demi Gisela Citra Sinema [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=64&subd=melekmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Selama Ramadhan lalu, saya sedikit punya harapan lagi kepada tontonan televisi. Sinetron <em>Para Pencari Tuhan</em> (PPT) kembali tayang lewat sekuel keduanya, <em>Para Pencari Tuhan Jilid 2</em>. Sudah begitu banyak ulasan di berbagai media massa tentang sinetron garapan aktor-sutradara-produser Deddy Mizwar ini. Begitu juga posting di blog-blog yang memberi salut pada sinetron produksi PT Demi Gisela Citra Sinema ini yang tak lain adalah rumah produksi milik Deddy Mizwar <em>(ia mendedikasikan nama istrinya, Gisela, untuk menamai perusahaan tsb)</em>.</p>
<p><a href="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/10/ppt-1.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-61" title="ppt-1" src="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/10/ppt-1.gif?w=128&#038;h=87" alt="" width="128" height="87" /></a>Tak perlu banyak ulasan lagi, karena satu bukti kuat akan kualitas dan dampaknya sudah ditunjukkan PPT lewat kotak ajaib di stasiun SCTV saban dinihari selama bulan puasa lalu, pukul 03.00-04.30 (terkadang hingga pukul 05.00 karena saking banyaknya iklan dan kuis sisipannya). Cukup dengan menyaksikannya, semua penonton dapat merasakan seberapa dalam kualitas tontonan tsb. Kita dapat hanyut dalam ceritanya, tokoh-tokohnya, berikut karakter-karakternya, tanpa harus menanggalkan akal sehat dan rasa manusiawi kita.<br />
<a href="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/10/ppt-1.gif"></a></p>
<p><span id="more-64"></span></p>
<p><a href="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/10/ppt-2.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-62" title="ppt-2" src="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/10/ppt-2.jpeg?w=200&#038;h=134" alt="" width="200" height="134" /></a>Begitulah sejatinya sebuah tontonan hadir di tengah-tengah pemirsanya. Nyatanya, televisi kita juga bisa berbuat sedikit &#8220;cerdas&#8221;. Modalnya sebenarnya cuma satu: <strong>kemauan</strong>. Ya, kemauan untuk memproduksi tontonan yang cerdas (hal ini sudah dibuktikan Deddy Mizwar bersama timnya) dan kemauan untuk menyediakan ruang untuk menayangkan tontonan cerdas tersebut. Ternyata hal itu tidak sulit, dan mungkin untuk dilakukan. Juga tidak selalu merugi! Bahkan, untung besar untuk semua pihak: rumah produksi laku sinetronnya, stasiun televisi laku iklannya dan naik citra stasiunnya, serta pemirsa yang terpuaskan secara utuh jiwa-raga tanpa kehilangan akal sehat dan otoritasnya. </p>
<p>Sayangnya, saya selalu kecewa dalam dua tahun penayangan PPT. Saya tidak pernah menyaksikan episode terakhir dalam setiap season (PPT 1 &amp; 2) karena sudah disibukkan urusan mudik dan berlebaran. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Alangkah menarik bila PPT juga tersedia dalam format DVD yang bisa dibeli secara luas. Selain untuk memuaskan orang-orang yang terlewat episode terakhir seperti saya, DVD juga bisa menjadi dokumentasi penting akan suatu tontonan yang berkualitas. Sekaligus bisa untuk bahan kajian bersama dan inspirasi bagi rumah produksi-rumah produksi lainnya. PT Demi Gisela, sudah ada DVD-nya belum ya? Adakah yang tahu di  mana saya bisa mendapatkannya?</p>
<p> </p>
<p><em>Note: </em></p>
<p>sumber gambar 1: http://modelayu.com/sinetron-para-pencari-tuhan.html</p>
<p>sumber gambar2: http://www.wikimu.com/news/DisplayNews.aspx?id=3886</p>
<p>http://id.wikipedia.org/wiki/Para_Pencari_Tuhan</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/melekmedia.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/melekmedia.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/melekmedia.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/melekmedia.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/melekmedia.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/melekmedia.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/melekmedia.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/melekmedia.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/melekmedia.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/melekmedia.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=64&subd=melekmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melekmedia.wordpress.com/2008/10/14/para-pencari-tuhan-adakah-dvd-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/895baceac2d517de242bbaa40f325c10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/10/ppt-1.gif?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">ppt-1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/10/ppt-2.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">ppt-2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Gapura Mataram&#8221; Menyapa Pembaca</title>
		<link>http://melekmedia.wordpress.com/2008/08/01/gapura-mataram-menyapa-pembaca/</link>
		<comments>http://melekmedia.wordpress.com/2008/08/01/gapura-mataram-menyapa-pembaca/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 07:49:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaki habibi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[fasilitator media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melekmedia.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[ 
Medio April lalu, tepatnya sejak 15 April hingga 6 Mei 2008, saya jadi sering bolak-balik ke perkampungan di daerah Kotagede, Jogja. Persisnya di Dusun Sayangan, Jagalan. Kampung ini sudah masuk wilayah Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Wilayahnya mudah dikenali dan dijangkau karena persis di sekitaran Masjid Kotagede, salah satu situs bersejarah peninggalan Kerajaan Mataram Islam. 
 
Tapi, keperluan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=54&subd=melekmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> </p>
<div id="attachment_55" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/08/gapura-mataram-1.jpg"></a><img class="size-medium wp-image-55" src="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/08/gapura-mataram-1.jpg?w=300&#038;h=199" alt="Pelatihan media komunitas di Sayangan, bertemu setiap Selasa malam di pendopo" width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">Pelatihan media komunitas di Sayangan, bertemu setiap Selasa malam di pendopo</p></div>
<p>Medio April lalu, tepatnya sejak 15 April hingga 6 Mei 2008, saya jadi sering bolak-balik ke perkampungan di daerah Kotagede, Jogja. Persisnya di Dusun Sayangan, Jagalan. Kampung ini sudah masuk wilayah Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Wilayahnya mudah dikenali dan dijangkau karena persis di sekitaran Masjid Kotagede, salah satu situs bersejarah peninggalan Kerajaan Mataram Islam. </p>
<p> </p>
<p>Tapi, keperluan saya keluar masuk di sana tak ada sangkut pautnya dengan urusan sejarah atau Kerajaan Mataram. Saya diundang menjadi fasilitator merangkap <em>trainer</em> untuk membantu menghidupkan keberadaan media komunitas yang dikerjakan pemuda-pemudi di wilayah tersebut. Awalnya, ini hanyalah salah satu kegiatan mahasiswa yang tengah KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari Universitas Islam Indonesia (UII). Undangan kepada saya pun datang dari mereka. Namun, setelah saya berbincang-bincang di awal, ternyata mereka belum siap dengan desain programnya. Alhasil, saya usulkan beberapa hal agar kegiatan itu tidak sekadar ada dan lalu jadi sia-sia.</p>
<p><span id="more-54"></span></p>
<p>Target utamanya adalah para pemuda-pemudi Sayangan berhasil membuat dan menerbitkan media komunitas. Saya tambahkan target penting lainnya, yaitu setelah tidak ada lagi program KKN, kawan-kawan dari Sayangan mesti dapat melanjutkan keberadaan media komunitasnya secara rutin. Dengan kata lain, bekal penguatan kapasitas para pelakunya lah yang lebih penting diutamakan daripada sekadar membantu menerbitkan sebuah produk media. </p>
<p>Dari situlah kemudian saya susun programnya. Sesederhana mungkin, tapi dapat dijalankan dan diterapkan. Sepekan sekali, <em>saba</em>n Selasa malam, ada kumpulan yang diadakan bersama saya. Jujur saja, awalnya saya masih &#8216;meraba-raba&#8217;. Saya tidak kenal komunitas ini, tidak paham karakter utamanya dan informasi yang saya dapatkan dari mahasiswa KKN juga terbatas. Dengan data dan info yang serba minim &#8211; sementara waktu mendesak, saya hanya punya waktu sebulan utk program pendampingan ini &#8211; akhirnya pertemuan pertama saya buat sebagai sebuah kajian dasar (<em>baseline assessmen</em>t). Di dalamnya juga saya sisipkan kajian kebutuhan (<em>needs assessment</em>), khususnya terkait dengan kebutuhan akan media komunitas di wilayah tsb. Metode yang saya pakai kala itu adalah kuesioner. Tentu saja dalam format yang sesederhana dan selugas mungkin. Satu halaman saja, tp <em>concise</em>.</p>
<p>Ternyata banyak dan beragam juga informasi yang saya dapatkan dari situ. Banyak juga yang tak disangka-sangka, jauh di luar perkiraan umum. Misal, terpaan media terhadap komunitas ini terbilang tinggi. Akses terhadap sumber informasi utama juga kuat. Keberadaan radio komunitas juga sudah dikenal di daerah tersebut. Selain itu, dari segi demografi, antara yang masih berstatus pelajar dan penganggur (baca: sudah lulus SMP atau SMA lalu bekerja serabutan) seimbang. Di sisi lain, semangat untuk berkarya bersama amat tinggi meski minim kemampuan. Atau sebenarnya, terlalu sering dianggap minim sehingga jadi <em>minder</em> di awal. Padahal, potensi yang dimiliki luar biasa. Berbekal informasi tsb saya melanjutkan dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya.</p>
<p> </p>
<p>Seiring dengan berjalannya program, tingkat kepercayaan komunitas thd saya dan juga soal interaksi sosial juga berangsur-angsur rekat. Ini proses yang tak kalah penting dalam menjalankan intervensi program ala begini. Akhirnya, ketika masuk ke dalam tahap merancang media hingga kemudian berlatih me-<em>manage</em> media sendiri, rasa <em>minder</em> pelan-pelan berkurang. Prinsip partisipatoris saya utamakan dalam seluruh aktivitas, sehingga hal ini juga mampu menumbuhkan rasa memiliki (<em>sense of belonging</em>) di antara mereka. Baik rasa memiliki terhadap produk yang akan dihasilkan bersama, maupun rasa memiliki terhadap komunitas tsb. Rasa memiliki adalah modal awal yang berharga untuk kemudian menumbuhkan rasa kepedulian. Menurut saya, di sinilah letak urat nadi utama sebuah media komunitas.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<div id="attachment_57" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/08/gapura-mataram-21.jpg"><img class="size-medium wp-image-57" src="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/08/gapura-mataram-21.jpg?w=300&#038;h=199" alt="Diskusi dalam kelompok kecil saat merancang media komunitas di Sayangan" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Diskusi dalam kelompok kecil saat merancang media komunitas di Sayangan</p></div>
<p>Setelah berkali-kali bertemu dalam &#8220;Kencan Selasa Malam&#8221;, akhirnya terbit jugalah produk perdana para pemuda-pemudi Sayangan. Dengan bangga mereka memberi tajuk <strong><em>Gapura Mataram</em></strong> bagi media komunitas mereka yang berbentuk buletin delapan halaman tersebut. Mereka pun punya filosofi yang mendasari nama tersebut. Selain juga berarti Garapan Pemuda dan Remaja Mataram, nama itu juga bermakna sebuah gerbang yg dalam bahasa Jawa adalah gapura, yakni gerbang pertukaran informasi di kalangan warga yang bercikal-bakal dan berkultur Mataram tsb. Media ini menyapa pembaca, seluruh warga RW 1 Sayangan, dan berusaha menjawab kebutuhan informasi mereka.</p>
<p> </p>
<p>Rubrik-rubriknya pun khas demi menjawab kebutuhan komunitas mereka. Dari <em>Pansus </em>(Liputan Khusus), <em>Sasa</em> (Salam Sapa), <em>Uneg-Uneg</em>, <em>P</em><em>anutan, Sketsa Kita, Godain</em> (Gosip Daerah Ini), <em>Atiku</em> (Aneka Tips KUampung), <em>Genta</em> (Agenda Kita), hingga <em>Bedhekan</em> alias kuis berhadiah. Rencananya, <em><strong>Gapura Mataram</strong></em> akan terbit empat sebulan sekali. Bila nanti lancar dan ada kebutuhan, periodisasi ini bisa diperpendek, mulai dari tiga bulan sekali, dua bulan sampai sebulan sekali.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<div id="attachment_58" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/08/gapura-mataram-3.jpg"><img class="size-medium wp-image-58" src="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/08/gapura-mataram-3.jpg?w=300&#038;h=201" alt="Cikal bakal &quot;Gapura Mataram&quot; terbentuk dimulai lewat proses yang partisipatoris" width="300" height="201" /></a><p class="wp-caption-text">Cikal bakal &quot;Gapura Mataram&quot; terbentuk dimulai lewat proses yang partisipatoris</p></div>
<p>Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah bahwa keberadaan media komunitas adalah sebuah modal sosial milik komunitas. Yang tentu saja, harus dijaga bersama keberlanjutannya, dikelola dan didanai bersama, demi manfaat bagi bersama pula.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Meski ini bukan pengalaman pertama saya mendampingi pembuatan media komunitas, tapi tetap saja saya belajar hal-hal baru. Salah satunya, pengalaman ini memperkuat tesis utama dari studi ttg komunitas bahwa pengetahuan dan kemampuan itu tidak memusat secara elit di kalangan tertentu. Namun, tersebar dan ada di mana-mana. Persoalannya kemudian, mau enggak kita berubah? Tidak lagi sekadar jadi sosok yang sok tahu dan sok hebat, berlagak seperti mesias yang turun dari surga untuk menyelamatkan dunia. Sekali-kali <em>mbok</em> ya yang <em>prasaja</em>, belajar dong untuk mau menjumput berbagai pengetahuan dan kearifan yang tersebar di sekitar kita. Dekat situ saja kok, enggak perlu jauh ke mana-mana.</p>
<p><em>Salam</em>.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/melekmedia.wordpress.com/54/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/melekmedia.wordpress.com/54/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/melekmedia.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/melekmedia.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/melekmedia.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/melekmedia.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/melekmedia.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/melekmedia.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/melekmedia.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/melekmedia.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/melekmedia.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/melekmedia.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=54&subd=melekmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melekmedia.wordpress.com/2008/08/01/gapura-mataram-menyapa-pembaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/895baceac2d517de242bbaa40f325c10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/08/gapura-mataram-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Pelatihan media komunitas di Sayangan, bertemu setiap Selasa malam di pendopo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/08/gapura-mataram-21.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Diskusi dalam kelompok kecil saat merancang media komunitas di Sayangan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://melekmedia.files.wordpress.com/2008/08/gapura-mataram-3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Cikal bakal &#34;Gapura Mataram&#34; terbentuk dimulai lewat proses yang partisipatoris</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wartawan Tanpa (Terikat) Media</title>
		<link>http://melekmedia.wordpress.com/2008/03/14/wartawan-tanpa-terikat-media/</link>
		<comments>http://melekmedia.wordpress.com/2008/03/14/wartawan-tanpa-terikat-media/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 16:55:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaki habibi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pers]]></category>
		<category><![CDATA[freelance journalist]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melekmedia.wordpress.com/2008/03/14/wartawan-tanpa-terikat-media/</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
Beberapa minggu belakangan ini aku mengusik diri dengan sebuah pertanyaan, “Mungkinkah seorang wartawan atau jurnalis tetap menjalankan kerja-kerja jurnalistiknya tanpa terikat pada media tertentu?”
Atau, dengan kata lain, mungkinkah seorang wartawan tetap jadi wartawan tanpa harus bekerja di media tertentu. Bukan sekadar jadi jurnalis lepas atau freelance journalist. Tapi, aku mendamba sebuah tatanan yang mengakui eksistensi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=43&subd=melekmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Beberapa minggu belakangan ini aku mengusik diri dengan sebuah pertanyaan, <i>“Mungkinkah seorang wartawan atau jurnalis tetap menjalankan kerja-kerja jurnalistiknya tanpa terikat pada media tertentu?”</i></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Atau, dengan kata lain, mungkinkah seorang wartawan tetap jadi wartawan tanpa harus bekerja di media tertentu. Bukan sekadar jadi jurnalis lepas atau <i>freelance journalist</i>. Tapi, aku mendamba sebuah tatanan yang mengakui eksistensi wartawan tanpa ia harus terikat secara administratif dengan satu media tertentu. Dia bebas melaporkan atau mereportase apapun, dari sudut pandang manapun, bebas pula menuliskannya di medium apapun dengan cara bagaimanapun. Adakah?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/melekmedia.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/melekmedia.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/melekmedia.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/melekmedia.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/melekmedia.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/melekmedia.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/melekmedia.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/melekmedia.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/melekmedia.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/melekmedia.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/melekmedia.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/melekmedia.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=43&subd=melekmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melekmedia.wordpress.com/2008/03/14/wartawan-tanpa-terikat-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/895baceac2d517de242bbaa40f325c10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siaran Radio: “Public Service with Personal Approach”</title>
		<link>http://melekmedia.wordpress.com/2008/01/04/siaran-radio-%e2%80%9cpublic-service-with-personal-approach%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://melekmedia.wordpress.com/2008/01/04/siaran-radio-%e2%80%9cpublic-service-with-personal-approach%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jan 2008 16:45:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaki habibi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[penyiar]]></category>
		<category><![CDATA[radio]]></category>
		<category><![CDATA[siaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melekmedia.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama aku tidak benar-benar mendengarkan radio. Sudah lama juga tidak bersinggungan di dunia siaran lagi sejak mengenalnya pertama kali di pertengahan 2001 dan kutinggalkan betul-betul di akhir Maret 2004. Tapi, semalam—lebih tepatnya dini hari tadi—aku tiba-tiba kembali jadi pendengar radio. Bukan cuma menyalakannya untuk mengisi kesenyapan malam, tapi benar-benar mendengarkan.
 
Gara-gara espresso di vanilla latte [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=42&subd=melekmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Sudah lama aku tidak benar-benar mendengarkan radio. Sudah lama juga tidak bersinggungan di dunia siaran lagi sejak mengenalnya pertama kali di pertengahan 2001 dan kutinggalkan betul-betul di akhir Maret 2004. Tapi, semalam—lebih tepatnya dini hari tadi—aku tiba-tiba kembali jadi pendengar radio. Bukan cuma menyalakannya untuk mengisi kesenyapan malam, tapi benar-benar mendengarkan.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Gara-gara espresso di vanilla latte yang kuminum sebelumnya, jadilah mata ini tidak mau diajak kompromi untuk tidur. Sambil menghabiskan novel yang sedang kubaca, kupasang earphone dari MP3 recorder, kuputar menu FM radionya dan secara kebetulan tertambatlah aku di sebuah program bertajuk<em> Insomnia</em>. Kebetulan berikutnya, program itu diputar di stasiun radio tempat pertamaku siaran dulu!</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span id="more-42"></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Kebetulan ketiga, lagu-lagu yang diputar berformat <em>after hits</em> alias tembang-tembang bukan baru yang dulu sempat jadi hits saat awal kemunculannya. Beruntunglah aku karena banyak yang kukenal juga lagunya. Alhasil, bukan lagi sekadar memanjakan telinga, tapi emosiku jadi ikut terlibat juga.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Ingin juga rasanya ikut <em>nimbrung</em> di acara tersebut. Kutelponlah radio itu. Setelah beberapa kali nada sambung, akhirnya ada juga yang mengangkat. “Ya, ada apa ya?” suara perempuan di ujung telepon, lengkap dengan nada datarnya. Kujelaskan kalau aku ingin bicara langsung dengan penyiarnya. Tidak perlu <em>phone live</em> atau <em>on-air</em>, tapi paling tidak bisa ngobrol langsung dengan penyiarnya sambil pesan lagu.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Tapi, apa yang kudapat. Justru kalimat pendek ketus yang meluncur dari penyiar itu, “SMS aja, Mas. SMS aja ya!”</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Rupanya dia ogah meladeni telpon karena menurut SOP kerjanya sekarang hubungan pendengar dengan radio itu hanya bisa lewat SMS. Khususnya untuk program malam itu.<span> </span> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><strong>Menjadi Teman Pendengar</strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Aku kaget bukan main. Bukan soal keketusan penyiar itu, tapi lebih ke kenyataan baru yang kuhadapi malam itu. Kenyataan bahwa ada situasi yang sudah bergeser, berubah dari yang pernah kuyakini dulu. Ketika aku siaran dulu, aku dididik oleh mentorku (<em>thanks to</em> Mas Ibnu dan Mas Denny) bahwa penyiar atawa <em>broadcaster</em> bukan lah ‘penguasa microphone’. Ia adalah pelayan publik.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Dalam perjalanannya, aku menemukan tambahan konsep bahwa selain melayani publik, penyiar juga harus mengedepankan pendekatan personal. Mengapa? Hal ini karena karakter radio siaran itu sendiri. Radio, meskipun secara simultan didengarkan bersama-sama oleh massa atau banyak orang, tapi sebenarnya merasuk di ruang-ruang pribadi setiap pendengarnya. Radio didengarkan di kamar tidur, di ruang belajar, di pos satpam, bahkan di kamar mandi. Sendirian, tidak bersama-sama. Kalaupun didengarkan bersama-sama, setiap pendengar membangun maknanya sendiri-sendiri dengan pengalaman dengaran tersebut.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Oleh karena itu, mengapa sapaan kepada pendengar radio sebaiknya berupa sapaan untuk orang kedua tunggal, seperti kamu, <em>elu</em>, atau Anda. Bukan sapaan orang ketiga, apalagi jamak, seperti dia, kamu-kamu, atau mereka. Dari sinilah aku menyebut bahwa kerja penyiar radio adalah kerja melayani publik dengan pendekatan personal, <em><span style="text-decoration:underline;">it’s a public service with personal approach</span></em>. Sebuah pandangan yang sekaligus juga sudah menjadi prinsip kerja penyiar bagiku.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Penyiar harus menjawab kebutuhan banyak orang, tapi tetap membangun kedekatan yang sepersonal mungkin. Dari sinilah aku sering mendapatkan pengalaman kontak dengan beragam pengalaman pendengar, lewat kisah-kisah mereka, keluh kesahnya, harapan-harapannya, ketakutan-ketakutannya, hingga mimpi-mimpinya. Aku tahu siapa profil pendengarku. Aku juga jadi lebih tahu program dan acara macam apa yang mereka butuhkan. Di sinilah letak penting prinsip tersebut.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Pengalamanku malam tadi membuktikan bahwa pemahaman penyiar radio muda yang kutelpon itu jauh dari yang kubayangkan. Aku juga heran jadinya bagaimana dia bisa memberikan masukan kepada Music Director (MD), Program Director (PD), hingga Station Manager (SM) tentang evaluasi maupun usulan acara dan programanya. Aku khawatir jangan-jangan sekarang pendengar tidak lagi jadi bagian penting dari praktik siaran radio, kecuali sebatas dilihat sebagai pasar: pasar iklan, pasar jualan. Ah, entahlah. Bisa jadi ini juga cuma celotehan seorang yang tak bisa tidur dan dikecewakan oleh satu-satunya ‘teman’ malam itu yang ternyata sudah tidak bisa lagi dianggap sebagai teman hidup di ruang dengar:<span> </span>r a d i o .</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/melekmedia.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/melekmedia.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/melekmedia.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/melekmedia.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/melekmedia.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/melekmedia.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/melekmedia.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/melekmedia.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/melekmedia.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/melekmedia.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/melekmedia.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/melekmedia.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=42&subd=melekmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melekmedia.wordpress.com/2008/01/04/siaran-radio-%e2%80%9cpublic-service-with-personal-approach%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/895baceac2d517de242bbaa40f325c10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Massa Beringas, Pers yang Tertindas</title>
		<link>http://melekmedia.wordpress.com/2007/11/27/massa-yang-beringas-pers-yang-tertindas/</link>
		<comments>http://melekmedia.wordpress.com/2007/11/27/massa-yang-beringas-pers-yang-tertindas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Nov 2007 07:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaki habibi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pers]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan pers]]></category>
		<category><![CDATA[massa]]></category>
		<category><![CDATA[public right]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melekmedia.wordpress.com/2007/11/27/massa-yang-beringas-pers-yang-tertindas/</guid>
		<description><![CDATA[Dunia pers nasional kembali tercoreng. Kali ini justru oleh ulah sekelompok mahasiswa di  Jakarta yang main gebuk di dalam kampus terhadap seorang jurnalis media online detik.com, Andi Saputra. Kisah lengkap berikut foto-fotonya bisa dibaca nanti di bawah. Saya sertakan juga beberapa link berita yang terkait peristiwa tersebut.
Satu hal yang ingin saya tekankan dari peristiwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=38&subd=melekmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dunia pers nasional kembali tercoreng. Kali ini justru oleh ulah sekelompok mahasiswa di <span> </span>Jakarta yang main gebuk di dalam kampus terhadap seorang jurnalis media online<em> detik.com</em>, Andi Saputra. Kisah lengkap berikut foto-fotonya bisa dibaca nanti di bawah. Saya sertakan juga beberapa link berita yang terkait peristiwa tersebut.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Satu hal yang ingin saya tekankan dari peristiwa itu adalah bahwa sekarang kita tidak bisa lagi menyikapi kejadian semacam ini sebatas dalam konteks pelanggaran kebebasan pers. Jadi, jangan sampai peristiwa semacam ini cuma terfokus pada konfrontasi antara insan pers versus massa yang menghalangi kerja jurnalistik di lapangan.</p>
<p class="MsoNoSpacing"><span id="more-38"></span></p>
<p class="MsoNoSpacing">Fenomena tersebut mesti kita lihat lebih luas lagi. Saat ini, iklim besarnya menunjukkan bahwa kita sudah tidak lagi di bawah kungkungan rezim otoritarian maupun totalitarian. Demokrasi sudah didengung-dengungkan di mana-mana. Namun, peristiwa kali ini juga bukan soal demokrasi yang kebablasan. Karena, justru orang yang berucap demikian tidak paham akan demokrasi. Tidak ada kebablasan dalam demokrasi. Tapi, ada tanggung jawab dan pengertian bersama. Itulah esensi demokrasi.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Jadi, kalau ada sekelompok mahasiswa main gebuk di dalam kampus yang katanya disebut-sebut sebagai kampus reformasi itu, soalnya terletak pada keberingasan massa yang telah meleburkan identitas personal. Mereka “berani gila” ketika berada dalam kerumunan, dalam <em>crowd</em> yang menenggelamkan identitas pribadi. Tak ubahnya dengan geng motor yang tengah mewabah bikin ulah. Bahwa yang sekarang kena apes adalah insan pers, itu bukti lanjutan kalau massa beringas tersebut memang sejenis makhluk bodoh yang tak pernah mau menggunakan akal sehatnya. Musuh pers di era Reformasi sekarang datang dari banyak arah. Tidak hanya dari penguasa zalim dan korup, tapi juga dari publik mereka sendiri. Tidak terkecuali para mahasiswa yang lupa identitas personal dan tanggung jawab moralnya tersebut.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Alhasil, kini bertemulah para pengacau beringas itu dengan pasal-pasal kebebasan pers yang dijamin undang-undang.<span> </span>Bertemulah mereka dengan pelanggaran hak asasi manusia, terutama terkait dengan hak publik atas informasi yang berhak diketahui khalayak (<em>public right to know</em> bersanding sejajar dengan <em>public right to express</em>). Sekarang tinggal menunggu kiprah para penegak hukum. Semoga mereka tidak sebodoh massa beringas itu, yang sudah bikin pers kian tertindas.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Silakan baca laporannya <a title="mahasiswa unika atmajaya brutal - 1" href="http://www.sinarharapan.co.id/berita/0711/23/jab03.html" target="_blank">di sini</a>, atau <a title="mahasiswa unika atmajaya brutal - 2" href="http://hariadhi.wordpress.com/2007/11/26/lucu-ya/#more-209" target="_blank">di sini</a> juga ada. Lebih lengkap lagi <a title="mahasiswa unika atmajaya brutal - 3" href="http://www.okezone.com/index.php/search?words=yoshua+atmajaya" target="_blank">klik di sini</a>.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Simak juga email salah satu rekan jurnalis yang saya forward berikut ini:</p>
<p class="MsoNoSpacing">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p class="MsoNoSpacing"> </p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><a title="kebrutalan thd jurnalis di unika atma jaya - 1" href="http://melekmedia.files.wordpress.com/2007/11/kebrutalan-di-unika-atmajaya-1a.jpg"><img src="http://melekmedia.files.wordpress.com/2007/11/kebrutalan-di-unika-atmajaya-1a.thumbnail.jpg" alt="kebrutalan thd jurnalis di unika atma jaya - 1" align="left" /></a>Ini adalah foto penganiayaan mahasiswa-mahasiswa Unika Atmajaya terhadap wartawan detik.com Andi Saputra. Seperti yang telah banyak diberitakan, Andi sedang melakukan peliputan tentang tewasnya mahasiswa Atma Yoshua, akibat terjatuh dari lantai 12, gedung parkir Unika Atmajaya. Hasil visum RSCM menunjukkan, tes darah dalam tubuh Yoshua mengandung 80 miligram alkohol.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Peliputan yang juga banyak dilakukan oleh banyak media, bukan hanya Andi semata, ternyata tidak dikehendaki oleh para mahasiswa Atmajaya. Mereka tidak menginginkan tewasnya Yoshua dipublikasi. Begitupun terhadap para petugas kepolisian. Para mahasiswa selain menghalang-halangi peliputan, juga sempat menghalangi para petugas kepolisian untuk melakukan evakuasi. Bahkan, petugas kepolisian juga sempat kesulitan untuk membantangkan police line di TKP.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Para mahasiswa tersebut, secara kasar telah mengusir para wartawan yang sedang melakukan tugas peliputan. Namun, entah mengapa Andi yang menjadi sasaran kemarahan mereka. Beberapa mahasiswa Atma secara kasar telah merebut kamera poker digital yang digunakan Andi untuk memotret proses evakuasi korban Yoshua oleh pihak kepolisian. Seluruh foto-foto dalam kamera tersebut, oleh para mahasiswa dihapus.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Tak cukup itu, mahasiswa itu pun mengeroyok dan memukuli Andi. Sebelumnya Andi sudah mengatakan bahwa dirinya adalah wartawan. Para mahasiswa sempat berhenti melakukan kekerasan. Namun, mereka kembali melanjutkan aksi kekerasannya. Andi sempat melarikan diri. Tapi, beberapa mahasiswa kembali mengejarnya dan melakukan kekerasan secara pengecut. Andi dipukuli di bagian belakang kepalanya. Seperti kita ketahui, daerah belakang kepala merupakan daerah yang rawan terhadap benturan.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Menurut keterangan Andi kepada kawan-kawan wartawan dan pihak Polda Metro Jaya, dari mulut para mahasiswa yang memukuli dirinya, berbau minuman alkohol yang sangat santer.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Seorang kawan fotografer dari harian Rakyat Merdeka Susanto, yang berada di lokasi kejadian dan berada tidak jauh dari Andi, tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Andi. Namun, Santo membantu dengan cara lain. Dia dengan cerdik berhasil mengabadikan aksi kekerasan itu. Santo memotret dengan cara menyembunyikan kameranya di sisi samping belakang badannya. Dengan posisi sulit seperti itu, Santo berhasil memotret Andi yang sedang dikeroyok para mahasiswa Atma.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><a title="kebrutalan thd jurnalis di unika atma jaya - 2" href="http://melekmedia.files.wordpress.com/2007/11/kebrutalan-di-unika-atmajaya-2a.jpg"><img src="http://melekmedia.files.wordpress.com/2007/11/kebrutalan-di-unika-atmajaya-2a.thumbnail.jpg" alt="kebrutalan thd jurnalis di unika atma jaya - 2" align="left" /></a>Fot<a title="kebrutalan thd jurnalis di unika atma jaya - 2" href="http://melekmedia.files.wordpress.com/2007/11/kebrutalan-di-unika-atmajaya-2a.jpg"></a>o-foto penganiayaan ini sudah dijadikan bukti utama oleh Polsek Setiabudi dan Polda Metro Jaya untuk mencari para pelaku. Sampai saat ini polisi masih mencari para pelaku. Polisi sudah mensweeping kampus Atma, namun para pelaku hingga saat ini menghilang dari aktivitas kampus.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Jadi, inilah kekerasan dari kampus reformasi yang juga menyuarakan anti kekerasan. Terutama tuntutan pengungkapan aksi kekerasan Semanggi I &amp; II yang terjadi pada sebagian besar para mahasiswa Atmajaya pada saat itu.</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;">Di sisi lain sebagian besar para wartawan, juga mendukung pengungkapan aksi kekerasan atas peristiwa Semanggi I &amp; II. Selain itu, sebagian besar wartawan juga menjadi pelaku sejarah terjadinya peristiwa Semanggi I &amp; II. Inikah balasan para mahasiswa-mahasiswa , yang notabene junior itu, kepada para wartawan. Hanya karena ingin menutup-nutupi &#8220;kecelakaan&#8221; yang dialami Yoshua. [oleh: Harry okezone.com - tolong disebarkan]</p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/melekmedia.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/melekmedia.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/melekmedia.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/melekmedia.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/melekmedia.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/melekmedia.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/melekmedia.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/melekmedia.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/melekmedia.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/melekmedia.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/melekmedia.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/melekmedia.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=38&subd=melekmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melekmedia.wordpress.com/2007/11/27/massa-yang-beringas-pers-yang-tertindas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/895baceac2d517de242bbaa40f325c10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://melekmedia.files.wordpress.com/2007/11/kebrutalan-di-unika-atmajaya-1a.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kebrutalan thd jurnalis di unika atma jaya - 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://melekmedia.files.wordpress.com/2007/11/kebrutalan-di-unika-atmajaya-2a.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kebrutalan thd jurnalis di unika atma jaya - 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tantangan Baru Bertajuk: “Citizen Journalism”</title>
		<link>http://melekmedia.wordpress.com/2007/11/18/tantangan-baru-bertajuk-%e2%80%9ccitizen-journalism%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://melekmedia.wordpress.com/2007/11/18/tantangan-baru-bertajuk-%e2%80%9ccitizen-journalism%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Nov 2007 11:51:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaki habibi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pers]]></category>
		<category><![CDATA[citizen journalism]]></category>
		<category><![CDATA[grass-root journalism]]></category>
		<category><![CDATA[media online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melekmedia.wordpress.com/2007/11/18/tantangan-baru-bertajuk-%e2%80%9ccitizen-journalism%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Banjir informasi di era Internet membawa banyak perubahan. Salah satunya adalah dalam praktik jurnalistik. Bagaimana berita menemukan bentuk dan makna barunya di era seperti ini? Silakan temukan jawabnya lewat telaah atas konsep baru bertajuk citizen journalism dalam artikel berikut:
Citizen Journalism dan Makna Berita di Era Informasi &#8211; by zaki habibi
      [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=34&subd=melekmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Palatino Linotype','serif';">Banjir informasi di era Internet membawa banyak perubahan. Salah satunya adalah dalam praktik jurnalistik. Bagaimana berita menemukan bentuk dan makna barunya di era seperti ini? Silakan temukan jawabnya lewat telaah atas konsep baru bertajuk <em>citizen journalism </em>dalam artikel berikut:</span></p>
<p><a href="http://melekmedia.files.wordpress.com/2007/11/20071118-citizen-journalism-oleh-zaki-habibi.pdf" title="Citizen Journalism dan Makna Berita di Era Informasi - by zaki habibi">Citizen Journalism dan Makna Berita di Era Informasi &#8211; by zaki habibi</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/melekmedia.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/melekmedia.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/melekmedia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/melekmedia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/melekmedia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/melekmedia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/melekmedia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/melekmedia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/melekmedia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/melekmedia.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/melekmedia.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/melekmedia.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=34&subd=melekmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melekmedia.wordpress.com/2007/11/18/tantangan-baru-bertajuk-%e2%80%9ccitizen-journalism%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/895baceac2d517de242bbaa40f325c10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengecam Sinetron (Lagi)</title>
		<link>http://melekmedia.wordpress.com/2007/11/05/mengecam-sinetron-lagi/</link>
		<comments>http://melekmedia.wordpress.com/2007/11/05/mengecam-sinetron-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 14:54:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zaki habibi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kotak Ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[komik strip]]></category>
		<category><![CDATA[sinetron]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melekmedia.wordpress.com/2007/11/05/mengecam-sinetron-lagi/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah Timun geram dengan ulah sinetron di televisi, kini giliran Sukribo yang mengecamnya di Kompas, Minggu 4 November 2007. Tentu saja dengan gayanya yang khas: nyindir agak nylekit. Moga-moga saja yang disindir merasakan clekitan Sukribo ini, bukannya malah makin pongah dengan berbagai polah dan ulah.

       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=35&subd=melekmedia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:'Palatino Linotype','serif';">Setelah<em> Timun</em> geram dengan ulah sinetron di televisi, kini giliran <em>Sukribo </em>yang mengecamnya di <em>Kompas</em>, Minggu 4 November 2007. Tentu saja dengan gayanya yang khas:<em> nyindir </em>agak <em>nylekit</em>. Moga-moga saja yang disindir merasakan <em>clekitan</em> Sukribo ini, bukannya malah makin pongah dengan berbagai polah dan ulah.</span></p>
<p><a href="http://melekmedia.files.wordpress.com/2007/11/sukribo-sinetron-kompas-4-nov-2007.jpg" title="Sukribo kritik sinetron - Kompas 4 November 2007"><img src="http://melekmedia.files.wordpress.com/2007/11/sukribo-sinetron-kompas-4-nov-2007.thumbnail.jpg" alt="Sukribo kritik sinetron - Kompas 4 November 2007" /></a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/melekmedia.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/melekmedia.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/melekmedia.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/melekmedia.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/melekmedia.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/melekmedia.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/melekmedia.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/melekmedia.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/melekmedia.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/melekmedia.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/melekmedia.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/melekmedia.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=melekmedia.wordpress.com&blog=2019633&post=35&subd=melekmedia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melekmedia.wordpress.com/2007/11/05/mengecam-sinetron-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/895baceac2d517de242bbaa40f325c10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zaki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://melekmedia.files.wordpress.com/2007/11/sukribo-sinetron-kompas-4-nov-2007.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sukribo kritik sinetron - Kompas 4 November 2007</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>