Satu bulan terakhir, pikiran saya tidak lepas dari film. Beberapa kegiatan terakhir yang saya ikuti memang berhubungan dengan film, sebut saja di antaranya ajang pesta film Asia di Jogja, the 4th Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) yang berlangsung awal Agustus lalu. Beberapa hari setelahnya, saya mendapatkan undangan workshop penulisan kritik film. Lalu, pekan lalu saya juga diminta mengisi pelatihan bagi para asisten laboratorium media mengenai penulisan data film untuk pusat dokumentasi media.
Tidak heran kalau pikiran saya pun jadi terus-menerus terhantui oleh sejumlah judul film. Terhantui di sini lebih berarti dipenuhinya pikiran dan perasaan oleh beberapa film yang masih saja melekat. Sesuatu yang asyik sebenarnya. Macam-macam penyebabnya. Bukan saja karena film-film ini bagus secara sinematis maupun aspek ceritanya, tetapi juga karena mereka ini terus menghentak di pikiran dan perasaan saya. Salah satunya adalah Slingshot Hip Hop.
Itu komentar ringkas, tapi sekaligus menggambarkan keseluruhan kesan saya atas film Slumdog Millionaire besutan sutradara Inggris, Danny Boyle. Di sini saya tidak akan mengupas seluk beluk film peraih 8 Oscar dan sejumlah penghargaan bergengsi lainnya itu. Untuk film yg sudah “menggetarkan” dunia sejak penghujung akhir 2008 hingga kini tsb ulasannya sudah begitu banyak, silakan saja langsung cek ke