Wartawan Tanpa (Terikat) Media

 

Beberapa minggu belakangan ini aku mengusik diri dengan sebuah pertanyaan, “Mungkinkah seorang wartawan atau jurnalis tetap menjalankan kerja-kerja jurnalistiknya tanpa terikat pada media tertentu?”

Atau, dengan kata lain, mungkinkah seorang wartawan tetap jadi wartawan tanpa harus bekerja di media tertentu. Bukan sekadar jadi jurnalis lepas atau freelance journalist. Tapi, aku mendamba sebuah tatanan yang mengakui eksistensi wartawan tanpa ia harus terikat secara administratif dengan satu media tertentu. Dia bebas melaporkan atau mereportase apapun, dari sudut pandang manapun, bebas pula menuliskannya di medium apapun dengan cara bagaimanapun. Adakah?

Explore posts in the same categories: Pers

Tags: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

11 Comments on “Wartawan Tanpa (Terikat) Media”

  1. akuhayu Says:

    tatanannya yang harus diubah?
    atau..
    pola pikir manusianya yang harus diubah?
    seperti memperdebatkan guyonan lawas ya..
    “duluan mana, ayam atau telor?”
    ^_^

  2. Abdee Says:

    Ada…. asal kita punya media sendiri.
    wartawan yang tetap jadi wartawan tanpa harus bekerja juga banyakkk….

  3. zen Says:

    Tulisanmu neng kompas apik Zak, sangat inspiratif, banyak yg suka. Selamat!!

  4. zaki habibi Says:

    terima kasih, terima kasih…
    syukurlah zen, berarti apresiasi dan dialog belum mandeg.
    semoga kita bisa terus berkarya.

  5. Abdee Says:

    wogh… metu nang kompas to…
    kapan?

  6. refanidea Says:

    hehe.. makasih atas apresiasinya di blog saya.

    “Mungkinkah seorang wartawan atau jurnalis tetap menjalankan kerja-kerja jurnalistiknya tanpa terikat pada media tertentu?”

    MUNGKIN..

    Kalo saya usul Goenawan Mohamad sebagai presiden jurnalis Indonesia setuju nggak mas..? Hehe.. :)

  7. zaki habibi Says:

    klo aku sih setuju-setuju saja.
    yg susah setuju kan yg punya kepentingan,
    terutama kepentingan bisnis.

    lha wong bisnis media jurnalistik skrg kan sdh ganti prinsip,
    dari penyuara kepentingan publik
    jd market-driven journalism.
    ya kan?!

  8. dusone Says:

    bisa ajah tuh…

    kata orang,pers sebagai salah satu pilar demokrasi…sedangkan saat sekarang tidak sedikit pers yang tidak independen..juga tidak sedikit beredar jurnalis/wartawan bodrek…

    dibutuhkan banyak jurnalis yg independen,tidak melayani pesanan tertentu,yg mau menulis keadaan apa adanya,,

  9. dwi Says:

    aku jujur ingin sekali menjadi freelancer journalist… tetapi mengingat kini kita tahu dunia internet telah ada.itulah menjadi fasilitas dari journalist masa kini…

  10. Zhang Says:

    Mmasyarakat nge-blog katanya ibarat wartawan tanpa terikat media…. Salam kenal ya……

  11. aryasandy Says:

    halo bang zaki,nimbrung ya..

    sepengetahuan saya, wartawan tanpa terikat media itu bisa masuk dalam definisi lain dari citizen journalism. ketika pers sbg institusi tdk bisa dijadikan sandaran (utamanya atas fungsi surveillance-nya dalam konsep the fourth estate) karena terikat berbagai kepentingan (t’masuk intervensi negara dan pemilik media), masyarakat sendiri bisa mengambil peran sebagai pengawas. Tdk perlu hrs masuk ke media itu sendiri, toh sudah cukup ruang dgn adanya perkembangan budaya blogging, yg pntg tinggal bagaimana membangun komunitas masyarakat yg kritis dan aktif dlm kerangka citizen journalism..


Comment: